Laman

Rabu, 04 Maret 2015

STRESS, FAKTOR PSIKOLOGIS, DAN KESEHATAN



STRESS, FAKTOR PSIKOLOGIS, DAN KESEHATAN

Istilah stress menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh yang dialami individu agar ia mampu beradaptasi atau menyesuaikan dirinya. Dalam batas tertentu stress sehat untuk diri kita, dan stress memantu kita untuk membantu kita agar tetap waspada dan aktif. Ada 2 jenis stress yaitu eustress (stress positif yang berguna bagi individu) dan distress (stress negatif yang cenderung mengacu pada tekanan fisik atau psikis). Stress bersumber dari stressor yang beragam macamnya, bisa fisik maupun psikis. Adakalanya stress yang berlebihan dapat merusak kemampuan coping masalah seseorang. Stress dapat berakibat pada gangguan penyesuaian diri individu.
Gangguan penyesuaian bercirikan reaksi maladaptif individu terhadap suatu stressor tertentu yang nampak dari penurunan yang signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, ataupun akademis individu. Dalam hal ini individu mengalami stress diatas batas ambang normal. Bila ini berlangsung dalam minimal 6 bulan setelah stressor terjadi, maka individu diagnosa mengalami gangguan tersebut. Stressor gangguan ini bisa berupa putus cinta, sehingga individu mengalami hendaya fungsi psikisnya yang terwujudkan dalam penurunan kinerja fungsinya. Berikut ini adalah subtipe gangguan penyesuaian, yaitu :

Jenis Gangguan Penyesuaian Diri
Ciri Utamanya
Gangguan Penyesuaian Dengan Gangguan Mood
Sedih, menangis, merasa tak punya harapan.
Gangguan Penyesuaian Dengan Kecemasan
Khawatir, gelisah, gugup, pada anak mungkin tak mampu

lepas dari figur kelekatannya, umumnya ibunya.
Gangguan Penyesuaian Dengan Gejala Campuran Antara Kece
Merupakan kombinasi antara depresi dan kecemasan.
masan dan Mood Depresi

Gangguan Penyesuaian Dengan Gangguan Perilaku
Melanggar norma sosial, dan hak orang lain, misalnya berke

lahi, melalaikan kewajibannya.
Gangguan Penyesuaian Dengan Gejala Campuran Antara
Komplikasi gangguan emosi, misalnya depresi atau kecema
Gangguan Emosi dan Tingkah Laku
san, dan gangguan perilakunya.
Gangguan Penyesuaian Yang Tidak Terklasifikasikan
Kategori Residual yang meliputi ciri-ciri yang tidak termasuk

dalam jenis gangguan penyesuaian lainnya.

DSM-IV-TR (APA, 2000).
Stress dapat meningkatkan resiko terkena penyakit fisik, dari mulai gangguan pencernaan hingga penyakit jantung (Cohen, dkk, 1993). Stress mempunyai efek berarti bagi sistem endokrin manusia, yang juga langsung berhubungan dengan sistem sirkulasi darah. Beberapa kelenjar hormon menunjukkan reaksi terhadap stress. Hipotalamus melepaskan hormon tertentu yang menstimulasi kelenjar pituitari untuk menghasilkan adrenocorticotrophic hormone (ACTH) yang kemudian menstimulasi kelenjar adrenalin di ginjal. Dalam pengaruh ACTH, kelenjar adrenalin melepas hormon steroid, dua diantaranya adalah kortisol dan krotison. Kedua hormon ini berperan dalam mereduksi stress, dan membantu perkembangan otot, yang menyebabkan hati melepaskan gula, sebagai energi dalam mereduksi stress. Saat stress, individu juga melepaskan eprinefrina dan noneprinefrina yang berperan dalam neurotransmitters, dan membantu meningkatkan kerja jantung dan menstimulasi hati melepaskan gula. Stress yang kronis dapat memacu aktivitas hormonal dalam tubuh sehingga tubuh manusia tersebut berada di bawah ambang homeostatis, dan gangguan fungsi hormonal tubuh, sehingga dapat berakibat pada terganggunya fungsi tubuh yang lainnya, misalnya sistem imun tubuh.
Stress dapat berupa stress fisik misalnya suara yang bising, maupun stress psikologis misalnya stress karena perceraian. Stress yang berlebihan membuat kita menjadi rentan terhadap penyakit karena lemahnya sistem kekebalan tubuh (Adler, 1999). Nampak dari hasil penelitian tertentu bahwa dukungan sosial mengurangi efek negatif dari stress ini. Misalnya saja motivasi dari orang tua terhadap mahasiswa dapat membantu mereduksi stress pada mahasiswa. Bukti lainnya menunjukkan bahwa menulis mengenai keadaan yang penuh tekanan dapat mereduksi efek negetif dari stress dan meningkatkan optimalisasi respon imun terhadap stress (Carpenter, 2001b; Esterling, dkk, 1999; Smyth, & Pennebaker, 2001). Misalnya dengan menulis cerpen, dan puisi. Sedangkan, menutupi situasi yang penuh tekanan dapat menambah beban tekanan pada sistem saraf otonomik, yang dapat melemahkan sistem imun tubuh, dan kerentanan terhadap stress (Pettie, Booth, & Pennbaker, 1998).
Dalam menjelaskan pola respons individu secara biologis terhadap stress, Hans Selye (1976) mengemukakan General Adaptation Syndrome (GAS). Sindrom ini mengisyaratkan bahwa seseorang melalui siklus stress dengan melampaui 3 tahapannya, yaitu :
Alarm Reaction, dalam tahapan ini individu mengalami suatu reaksi yang terus mengawasi stressor, dan diri akan memberikan daya untuk mereduksinya.
Resistance Stage, dalam tahapan ini individu telah mengalami kepersistensian dari suatu jenis stressor. Tahap ini dikenal juga dengan tahap adaptasi, dimana terjadi upaya diri untuk menghimpun tenaga dan memperbaiki kerusakan dan keadaan pasca stress. Apabila stress berlanjut jua, maka individu akan mencapai pada tahapan selanjutnya.
Exhaustion Stage, dimana persistensian dari stressor membuat suatu kelelahan (exhaustion) diri dalam menanggapinya. Apabila sumber stress menetap maka individu bisa mengalami diseases of adaptation, yang berkisar mulai dari alergi hingga kematian.
Beberapa faktor pencetus stress adalah sebagai berikut :
Perubahan pola hidup menjadi sumber stress bila perubahan hidup tersebut menuntut kita untuk beradaptasi secara berlebihan di luar ambang kemampuan diri kita.
Akulturasi budaya, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap individu Meksiko-Amerika oleh Zamanian, dan rekan-rekannya (1992) mengidentifikasikan bahwa mereka yang menunjukkan akulturasi yang rendah menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang terakulturasi dan bikultural. Status akulturasi yang rendah menunjukkan rendahnya status sosial ekonomi, kesulitan inilah yang diasumsikan menjadi pemicu tambahan bagi stress, dengan disertai ketidakmampuan berakulturasi terhadap kultur setempat, memungkinkan meningkatkan resiko depresi, dan masalah psikologis lainnya. Menutup diri dari kultur tertentu dapat menghambat individu dalam berkegiatan sebagai mana mestinya, sehingga dirinya mengalami maladjustment.
Metode coping stress diri yang buruk. Ada dua cara coping stress, yang akan dijelaskan berikut ini beserta resikonya terhadap kemunculan stress individu.
ü  Coping stress berfokus pada emosi, misalnya dengan penyangkalan, berkhayal, dan penghindaran diri dari masalah. Beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa jenis coping serupa ini dapat memicu buruknya kondisi medis mereka, dan mereka cenderung bisa mengalami distress emosional, dan berakibat pada hendaya fungsi imun tubuh.
ü  Coping stress yang berfokus pada masalah. Jenis coping stress ini cenderung menilai stressor yang dihadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah reaksi guna meringankan efek dari stressor tersebut. Hal ini juga melibatkan strategi untuk menghadapi secara langsung sumber stress.
Harapan akan Self Efficacy meliputi harapan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan hidup, harapan akan kemampuan diri untuk melakukan perilaku terampil, dan harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat mengatasi stressor secara efektif.semakin tinggin harapan akan self-efficacy, maka semakin kecil kecenderungan individu dalam hal mengalami stress.
Daya tahan psikologis individu yang buruk. Bagaimana seseorang mengatasi stress dan mengelolanya merupakan bagian dari ketahanan psikologis. Asumsi sebuah studi mengisyaratkan bahwa semakin tinggi komitmen hidup, kepercayaan bahwa perubahan hidup adalah wajar adanya, dan pengendalian hidup yang kuat pada individu, maka semakin tinggi ketahanan psikologis seseorang pada dasarnya (Kobasa, Maddi, & Kahn, 1982, hal. 196-170).
Rasa pesimistis individu. Dalam hal ini ada hubungan antara rasa optimistis dan kesehatan yang lebih baik. Optimisme berkaitan dengan mood dan respon sistem imun tubuh yang lebih baik (Segerstrom, dkk, 1998).
Dukungan sosial yang kurang baik. Dengan adanya dukungan sosial yang cukup dari lingkungan, kita mendapatkan alternatif dalam coping stress dalam menghadapi stressor atau sekadar memberikan dukungan emosional yang dibituhkan selama masa-masa rumit kehidupan.
Identitas etnik. Identitas etnik tertentu pada suatu budaya, misalnya kaum Afrika-Amerika yang menerima diskriminasi budaya dari budaya kulit putih di Amerika, cenderung memiliki resiko kesehatan fisik dan psikis yang tinggi, begitu halnya dengan stress.
Faktor Psikologis Stress, misalnya kepribadian seseorang, emosi-emosi negatif seperti mara dan kecemasan, dan lingkungan sosial. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa tipe kepribadian A merupakan faktor resiko psikologis juga terhadap stress. Tipe kepribadian ini dicirikan dengan berkemauan sangat keras, ambisius, tidak sabaran, dan kompetitif yang tinggi.  Sedangkan lingkungan sosial sendiri juga dapat meningkatkan resiok stress, atau sebaliknya.
Faktor-Faktor Gangguan Fisik. Faktor-faktor ini bisa mencakup segala gangguan ringan misalnya sakit kepala. Sebuah studi menunjukkan bahwa stress juga dapat menimbulkan gangguan fisik seperti sakit kepala, cardiovascular diseases, kanker, dan penyakit lainnya. Dan sebaliknya juga, gangguan fisik dapat mengakibatkan stress misalnya AIDS, cacat organ tubuh tertentu, dan sebagainya. Kesemuanya juga saling mempengaruhi, dan mungkin bergantung pada taraf penyesuaian diri seseorang terhadap penyakit, dan lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar