Laman

Minggu, 01 Maret 2015

PRINSIP-PRINSIP PSIKODIAGNOSTIK



PRINSIP-PRINSIP PSIKODIAGNOSTIK


A. PENGERTIAN PSIKODIAGNOSTIK
Psikodiagnostik dalam arti sempit mempunyai pengertian sebagai metode yang digunakan untuk menetapkan kelainan-kelainan psikis dengan tujuan untuk dapat memberikan pertolongan atau pengobatan dengan lebih tepat. Sementara itu dalam arti luas pengertian Psikodiagnostik dibagi dalam dua aspek, yaitu aspek praktis dan teoritis. Psikodiagnostik dalam aspek praktis adalah metode untuk membuat diagnosis psikologis dengan tujuan untuk dapat memperlakukan subyek dengan lebih tepat. Psikodiagnostik dalam aspek teoritis adalah studi ilmiah tentang berbagai metode untuk membuat diagnosis psikologis dengan tujuan agar dapat memperlakukan subyek dengan lebih tepat. Psikodiagnostik digunakan agar permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kejiwaan yang dialami oleh manusia dapat ditangani dan dipahami secara lebih baik.
Pada dasarnya Psikodiagnostik merupakan salah satu bentuk pemeriksaan psikologis yang dilakukan dengan teknik-teknik dan alat ukur tertentu yang telah distandardisir guna menemukan sifat-sifat yang melandasi perilaku atau kepribadian tertentu, sehingga mampu menjelaskan dinamikanya. Pemeriksaan psikologis itu sendiri mempunyai tujuan untuk mengungkap aspek-aspek psikologis tertentu dari individu yang hendak diperiksa yang dilakukan untuk maksud dan tujuan tertentu juga. Setiap pemeriksaan psikologis dibatasi sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai saja. Beberapa kegunaan yang dapat dicapai dengan dilakukan nya pemeriksaan psikologis: 1. memperoleh informasi mengenai individu dalam aspek perkembangannya dari segi intelektual,kepribadian, sosial maupun emosional sehingga dapat memahami kebutuhan perkembangan individu secara optimal. 2. mengetahui kelemahan maupun keunggulan individu agar kehidupannya dapat dimaksimalkan. 3. pemahaman terhadap individu merupakan sarana informasi bagi keluarga agar memperlakuak individu secara tepat. 4. untuk penjurusan pendidikan dan penempatan pekerjaan secara tepat. 5. untuk bimbingan konseling bila individu mempunyai masalah. 6. sebagai bahan untuk proses terapi bila dibutuhkan.
Dalam banyak kasus, pemeriksaan psikologis sangat dibutuhkan sebagai salah satu alat bantu utnuk menggambarkan tentang keadaan psikologis individu. Pemeriksaan psikologis dapat digunakan untuk:1. seleksi. 2. promosi. 3. mengidentifikasikan kemampuan/ketidak mampuan belajar khusu. 4. pengukuran ciri kepribadian. 5. nilai hidup. 6. penentuan bakat dan minat. 7. pengukuran perilaku. 8. pertimbangan klinis.

B. PRINSIP PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS
Prinsip yang harus dipegang dalam pemeriksaan psikologis adalah memberikan perlakuannyang sama pada semua individu yang hendak diperiksa. Perlakuan yang sama dalam hal: 1. interaksi yang sma antara psikolog dan individu yang hendak diperiksa. 2. penyampaian administrasi tes. 3. penyedian lingkungan pemeriksaan. Perlakuan yang sama dimaksudkan agar skor dan hasil pemeriksaan yang diperoleh individu yang berbeda nantinya dapat dibandingkan. Perlakuan yang seragam hanya merupakan aplikasi khusus dari pengendalian kondisi dalam semua observasi ilmiah. Keseragaman prosedur pemeriksaan psikologis harus dimulai dengan memapankan sikap individu yang hendak diperiksa, terutama yang berkaitan dengan rapport, ego involvement dan motivasi.
Rapport adalah interaksi yang saling dapat menerima, tanpa prasangka dan tekanan antara pemeriksa/pengetes dan individu yang hendah diperiksa. Rapport sangat penting, karena pengaruhnya sangat besar pada hasil pemeriksaan. Paengetes harus memberikan kesan bahwa dirinya ramah, dapat dipercaya dan bersikap membantu, agar dapat menimbulkan rapport.
Ego involvement merupakan situasi yang melibatkan kepentingan individu yang hendak di tes. Sebelum pengetesan dilakukan, ego involvement perlu dibangkitkan terlebih dahulu untuk mendapatkan kerjasama yang baik dengan individu yang hendak di tes. Tujuannya agar individu merasa berkepentingan untuk mengerjakan tes seperti yang diharapkan.
Motivasi yang berkaitan dengan pemeriksaan/pengetesan ini adalah dorongan yang sebaik-baiknya pada individu yang hendak diperiksa.Pada aspek pengukuran kognitif motivasi diarahkan agar individu mengerjakan usaha secara maksimal. Hal ini disebabkan karena pengukuran aspek kognitif memang didasarkan pada “the highest level of perfomance”. Sementara itu pada pengukuran aspek non kognitif seperti inventori, motivasi diarahkan agar individu mau menjawab inventori sesuai dengan keadaan dirinya. Pengetes harus memberi kesan bahwa pada inventori ini tidak ada jawaban yang salah, semua jawaban dianggap benar selama jawaban tersebut sesuai dengan keadaan dirinya.

C. FAKING DAN CARA MENGATASINYA
Faking atau pengelabuhan jawaban biasanya terjadi saat individu mengerjakan inventori. Faking good yaitu memberikan impresi yang lebih baik atau dapat dikatakan membaik-baikkan dirinya. Tidak menggambarkan keadaan individu yang sebenarnya. Tujuannya adalah agar hasilnya baik dan dapat diterima disuatu perusahaan (misalnya).Ada juga yang disebut dengan Faking Bad yaitu sengaja memberikan impresi yang lebih buruk.Tujuannya agar tidak diikut sertakan dalam milisi.
            Berbagai eksperimen menunjukkan bahwa faking pada suatu inventori, baik faking good maupun faking bad memang dapat dilakukan. Dengan kata lain impresi yang diinginkan memang dapat diciptakan dengan sengaja. Terdapat suatu eksperimen yang menggunakan dua kelompok subyek yang sebanding.Kelompok pertama diintruksikan/diarahkan untuk sedemikian rupa hingga seolah-olah mereka adalah orang yang bahagia tidak bermasalah dan pandai menyesuikan diri. Sebaliknya kelompok dua diintruksikan/diarahkan untuk memberi jawaban seolah-olah dirinya adalah orang yang bermasalah. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa skor kedua kelompok berbeda secara signifikan.
            Bentuk faking good yang lain selain memberikan impresi yang lebih baik ialah kecenderungan untuk mengikuti  norma masyarakat atau social desirability yaitu memberikan jawaban yang dirasa benar, bukan jawaban yang paling sesuai dengan dirinya. Item-item yang banyak bermuatan social desirability biasanya masalha-masalah filsafat negara, adat setempat, agama dan sejenisnya.
            Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengatasi faking. Salah satu cara pengetesan yang penting dan bersifat umum ialah menganjurkan pada mereka yang mengerjakan inventori agar menjawab secepat yang dapat dilakukan, walaupun pada inventori tidak ada batasan waktu. Semakin lama individu merenung suatu item inventori, maka jawaban yang diberikan akan makin tidak murni kecocokannya dengan perilaku yang sesungguhnya. Cara lain untuk mengatasi faking adalah dengan mengelabuhi tujuan suatu tes. Misalnya, tes untuk mengungkap ketaatan beribadah dinyatakan dengan tes kejujuran.
























II. METODE PENGUMPULAN DATA

            Penentuan metode pengumpulan data dalam proses diagnostik harus mempertimbangkan banyak segi, misalnya berkaitan dengan kemampuan bahasa,pendidikan, gangguan yang dialami, kesedihan. Hal ini disebabkan karena  keberhasilan penggalian data tidak hanya tergantung dari keahlian dari pengetes (Tester) saja, gtetapi juga mempertimbngkan situasi dan kondisi yang dialami oleh subjek sasaran yang membutuhkan bantuan. Adapun jenis-jenis metode pengumpulan data adalah sebagai berikut:

A. OBSERVASI
Istilah OBSERVASI berasal dari bahasa Latin yang berarti melihat dan memperhatikan. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.
OBSERVASI   dalam arti sempit adalah metode ilmiah yang berupa pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang ingin diselidiki. OBSERVASI dalam arti luas dapat pula terjadi pada pengamatan yang dilakukan tidak langsung atau lewat angket ataupun tes.

Tujuan Observasi

Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari,aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut (Rahayu & Ardini 2004).  Selain itu tujuan lain dari observasi adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang kehidupan sosial yang sulit diperoleh dengan metode lain.
Terdapat beberapa hal yang perlu diingat sebelum melakukan observasi. Observer terlebih dahulu harus memperoleh pengetahuan tentang hal yang akan diobservasi dan jenis fenomena yang akan dicatat. Setelah itu tentukan variabel-variabel yang ingin diselidiki secara eksplisit, demikian juga konsep yang ingin diselidiki harus dirumuskan secara tajam.
Pendekatan Sistematik Observasi Dapat  Dikelompokkan Berdasar

1. Letak Observasi Dilakukan

a.      Feld Setting atau natural setting adalah situasi alamiah di lapangan. Misalnya: observasi anak di rumah, di sekolah
b.      Simulated setting adalah situasi observasi dimana individu mendapatkan suatu stimulus untuk menghasilkan tingkah laku tertentu. Misalnya situasi kerja (namun tidak sepenuhnya dikendalikan)
c.       Laboratory setting adalah situasi observasi di laboratorium (sepenuhnya dikendalikan oleh observer)

2. Apa yang diobservasi

a.      Event sampling, hanya mengamati beberapa aspek tingkah laku pada suatu saat tertentu. Misalnya: mencatat tingkah laku agresif anak saat bermain bersama temannya.
b.      Time sampling, mengamati dan mencatat apa saja yang dilakukan dalam waktu tertentu
3. Klasifikasi Observasi
a.      Observasi partisipan-Non Partisipan
Umumnya digunakan untuk penelitian yang besifat eksploratif. Observasi partisipan, observer berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekasligus menjadi bagian dari yang diamati. Observasi nonpartisipan, observer hanya memerankan diri sebagai pengamat.
b.      Observasi Sistematik
Observasi ini juga bisa disebut dengan observasi berkerangka. Cirinya adalah terdapat kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya terlebih dahulu dan ciri-ciri kusus dari tiap-tiap faktor dalam kategori.
c.       Observasi Eksperimental
Observasi ini dapat dilakukan dalam lingkup alamiah atau natural ataupun lingkup eksperimental.



4. Bagaimana Pencatatannya
a.       Pencatatan langsung/ immediate recording, dilakukan segera setelah pengamatan dilakukan atau ketika pengamatan sedang berlangsung
b.       Pencatatan retrospektif/retrospektif recording, dilakukan setelah observasi selesai dilakukan

Teknik Pengambilan Data Observasi
1.      Studi kasus
a.       Adalah proses melakukan pengamatan terhadap 1 objek/1 kelompok/1 institusi/1 instansi secara mendalam.
b.      Berisi mengenai karakteristik atau latar belakang objek observasi
c.       Subjeknya terbatas, hanya satu. Misal : anak-anak (deliquen)
d.      Kelebihan : data yang diperoleh banyak dan mendalam
e.       Kelemahan :   Waktu yang digunakan lama
Tingginya unsur subjektivitas
Generalisasi lemah (kurang bisa diterapkan pada kelompok lain yang lebih besar)
2.      Teknik simulasi
a.       Memberi tugas yang harus diselesaikan kepada subjek penelitian
b.      Cara penyelesaian subjek merupakan hal atau objek yang akan kita amati
Misal :
-            Melihat perilaku stress mahasiswa. Bila perilaku tersebut tidak nampak saat kita mengamatnya maka kita dapat memunculkan “perilaku stress” tersebut dengan memberikan suatu tugas.
-            Untuk recruitmen pegawai, kita memilih siapa yang terbaik dengan memberi tugas dengan waktu yang terbatas.
c.       Kelemahan : perilaku yang dimunculkan bukan perilaku yang sebenarnya.





3.      Analisis isi (Content Analysis)
a.       Pengamat melakukan pengkategorian atau penilaian terhadap deskripsi, berdasarkan konsep tertentu
b.      Data bersifat deskripsi/uraian/gambaran/sekelompok kata yang berusaha dikategorikan (diperoleh baerdasarkan data kualitatif)
Misal :
-        Penelitian musik ® kecenderungan syair lagu yang disenangi
-        Meneliti frekuensi pembunuhan ® dengan membaca koran 3 bulan sebelum dan sesudah penelitian
-        Content analysis terhadap pemberitaan media massa tentang terorisme, Aceh, etnis
4.      Perekaman
5.      Sampling waktu
Dengan menggunakan contoh-contoh waktu
Misal :
Meneliti perilaku mahasiswa peserta kuliah. Kalau mempunyai kecenderungan yang sama, maka kita Cuma mengambil sampling waktu, seperti : 10 menit pertama, 10 menit pertengahan, dan 10 menit terakhir saja. Tapi kalau karakteristiknya berbeda maka kita tidak dapat mengambil sampling waktu. Apabila kita ingin memakai sampling waktu, maka kita harus mencatat waktu yang menunjukkan homogenitas
6.      Sosiometri
a.       Cara mengukur sosiometri dengan pilihan akan suatu gejala :
-        Yang berkaitan dengan interaksi
-        Yang berkaitan dengan komunikasi
b.      Sosiometri mengukur hal yang nampak
c.       Cara mengukurnya ada  dua yaitu :
-        Ingatan, individu memiliki alternatif gejala berdasarkan memori yang ia miliki
-        Pengamatan, individu diminta memilih alternatif gejala berdasarkan objek yang sedang ia amati.

d.      Umumnya lebih banyak pilihan tentang orang, seperti :
Kita diminta memilih salah satu teman yang memiliki kestabilan emosi yang baik.
Cara mengetahuinya antara lain :
-        Memberi stimulasi yang dapat memancing emosi
-        Menggunakan sosiometri, yaitu : subjek penelitian diminta untuk menyebutkan pendapatnya tentang siapa yang dianggap mempunyai kestabilan emosi.

Analisis sosiometri dibagi 2 :
a.      Matriks sosiometri
Yaitu dengan mengelompokkan jawaban ke dalam tabel-tabel
Misal : siapa yang paling kamu kenal ?
b.      Sosiogram
Adalah gambaran menegenai arah panah pilihan
Ada 3 bentuk :
-        Satu arah : terjadi bila individu memilih seseorang tapi orang itu tidak memilih orang tersebut
-        Dua arah/interaktif : menunjukkan intimasi
-        Klik : bila sekelompok orang saling memilih satu sama lain

Validitas dan Reliabilitas dalam Observasi
Menurut hadi (1990) untuk mengatasi kesesatan dalam observasi maka perlu ada langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Menyediakan waktu lebih banyak agar dapat melihat objek dari beberapa segi dan berulang-ulang
2.      Menggunakan banyak observer untuk melihat objek dari berbagai segi amatan dan mengintegrasikan hasil penyelidikan dari mereka itu untuk mendapatkan gambaran tentang keseluruhan yang utuh dari objek itu.
3.      Mengambil lebih banyak objek yang sejenis agar dalam waktu terbatas objek itu dapat disorot dari segi-segi yang berbeda

4.      Selain itu, tuntutan reliabilitas sulit diatasi karena :
-        Persepsi dan penilaian selektif yang dilakukan observer tentang sesuatu yang diamati
-        Kehadiran peneliti akan menimbulkan dampak terhadap perilaku dalam setiap kegiatan sosial, apalagi bila peneliti turut mengarahkan kegiatan tertentu
-        Adanya keterbatasankemampuan pengamatan sehingga tidak mungkin seluruh aktifitas sasiao; daapat termonitor dan terekam

Hal yang Di Observasi
Banyak hal, peristiwa, masalah dan gejala-gejala yang dapat diobservasi. Dalam melakukan observasi ada beberapa point yang biasanya perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :
1.      Penampilan fisik, yang meliputi kndisi fisik observee.
Misalnya : tinggi badan, berat badan, warna kulit, dan lain-lain.
2.      Gerakan tubuh/penggunaan anggota tubuh
Misalnya : bagaimana postur tubuh observee, bagian tubuh mana yang sering digunakan dan bagian mana yang kurang banyak digerakkan (misalnya observee selalu menggerakkan tangan ketika bicara)
3.      Ekspresi wajah, yaitu bagaimana ekspresi wajah observee ketika sedang berbicara
4.      Pembicaraan, yaitu isi pembicaraan yang dilakukan
5.      Reaksi emosi, yaitu bagaimana reaksi emosi observer. Dalam penelitian seorang observer perlu memperhatikan bagaimana reaksi emosi ebservee terhadap suatu masalah yang ingin diteliti
6.      Aktifitas yang dilakukan, misalnya jenisnya, lamanya, dengan siapa di mana dan sebagainya
7.      Dan beberapa hal yang perlu diobservasi.
      Hal ini sesuai dengan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan.



B. WAWANCARA
Wawancara merupakan proses komunikasi yang bersifat interaksional antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara atau interview berasal dari kata entrevue yang berarti pertemuan sesuai dengan perjanjian sebelumnya; serta kata entre = inter & voir = videre = melihat, yang berarti tanya jawab lisan dengan maksud untuk dipublikasikan (Kartono,1996). Menurut Chaplin (1989) interview adalah percakapan dengan bertatap muka yang bertujuan memperoleh informasi faktual untuk menaksir dan menilai kepribadian individu atau untuk tujuan-tujuan konseling maupun terapiutis.
            Metode wawancara merupakan suplemen dari metode observasi. Melalui wawancara diharapkan ada pengungkapan lebih jauh tentang suatu gejala yang terjadi pada seseorang. Pewawancara harus melihat responden sebagaimana adanya bukan sebagai klien. Hal inilah yang membedakan anatara wawancara studi kasus dengan wawancara konseling.

Tujuan Wawancara
1.      Menggali informasi tentang latar belakang ,sikap, keinginan dan interpretasi tentang situasi sosial.
2.      Memberikan gambaran yang detail tentang kepribadian seseorang
3.      Verifikasi data yang diperoleh dari sumber informasi sekunder.

Sikap Pewawancara agar Mendapat Informasi yang Baik

1.      Bersikap netral. Pewawancara hanya bertugas sebagai perekam informasi. Tidak benar apabila menilai keterangan yang didapat. Tidak pilih-pilih responden. Siapapun yang diwawancara harus bersikap baik
2.      Ramah. Dengan keramahan akan terjalin interaksi yang intens sehingga responden tidak keberatan untuk mengemukakan informasi yang ditanyakan
3.      Pewawancara harus berusaha agar tidak tegang. Suasana tegang dapat muncul karena formalitas.
4.      Pengetahuan. Pewawancara mempunyai wawasan atau pengetahuan tentang topik wawancara
5.      Latihan wawancara.

Materi Wawancara

1.      Riwayat kasus (contoh: pertama kali/tujuan menjadi PSK)
2.      Persepsi tentang pekerjaan (pekerjaan tsb baik atau tidak utk individu)
3.      Pandangan orang tentang dirinya
4.      Hal-hal yang berhubungan dengan norma
5.      Hubungan dengan teman
6.      Pandangan akan masa depan

 

Jenis-jenis wawancara

1.      Wawancara Terstruktur, pedoman pertanyaan sudah disiapkan dan alternatif jawaban telah diperkirakan
2.      Wawancara Tidak Terstruktur, tanpa didasari pedoman pertanyaan
3.      Wawancara Semiterstruktur/Campuran, mengkombinasikan kedua jenis wawancara diatas
4.      Wawancara Berangkai, interviewe diwawancara oleh beberapa interviewer secara bergantian dengan tema bisa berbeda
5.      Wawancara Panel, interviewer terdiri dari beberapa orang  yang mengajukan pertanyaan secara bersama-sama dengan tema berbeda
6.      Wawancara Secara Kelompok, orang yang akan diwawancara dijadikan satu kelompok, diberi permasalahan dan selanjutnya dipecahkan secara bersama-sama dalam waktu terbatas

Kesalahan-kesalahan yang Sering dilakukan pewawancara (Metzler, 1977)
1.      Kurang matangnya perencanaan
2.      Kegagalan dalam probing
3.      Kecerobohan penampilan
4.      Membawa konsep yang kaku dalam wawancara
5.      Tidak sensitif
6.      Tidak dapat menangkap informasi  pokok
7.      Malas
8.      Tidak mampu mengontrol pembicaraan
9.      Terlalu banyak berpendapat
Sumber error dalam melaporkan hasil interview dapat dibagi menjadi 5 error,yaitu: 1. error of recognition, ingatan yang gagal mereproduksi apa yang ditangkap dalam interview. 2. error of omission, melewatkan hal-hal yang seharusnya dilaporkan. 3. error of addition, menambahkan sesuatu yang tidak terdapat dalam wawancara. 4. error of  substitution, tidak ingat apa yang sebenarnya dikatakan oleh interviewee dan menggantinya dengan keterangan yang lain. 5. error of transportation, kesalahan dalam urutan kejadian menurut waktunya.

C. ANGKET/QUESIONER
Angket adalah suatu data pertanyaan yang harus dijawab & data isian yang harus diisi oleh individu. Berdasar jawaban atau isian sejumlah subyek, maka penyelidik mengambil kesimpulan subyek yang diteliti. Terdapat 3 klasifikasi dari angket:
1.      Berdasar siapa yang harus menjawab, maka dibedakan menjadi dua, yaitu angket langsung, jika yang menjawab atau mengisi adalah subyeknya sendiri dan angket tidak langsung, jika yang mengisi atau menjawab bukan subyeknya sendiri, Contoh: anak yang mengisi namun karena anak mengalami kesulitan maka minta bantuan orang tua.
2.      Berdasar bentuknya, maka dibedakan menjadi dua: angket terbuka, jika tidak dibatasi jawabnnya dan angket tertutup, jika dibatasi jawabnnya, dan jawaban sudah disediakan.
3.      Berdasar aspek-aspek kepribadian yang diselidiki, dibedakan: angket umum, untuk mengetahui data mengenai individu secara umum/data selengkap mungkin tentang individu dan angket khusus, hanya ingin mengetahui satu aspek saja, misalnya masalah belajar, masalah hubungan sosial.

D.  FOCUS GROUP DISCUSSION
Focus Group Discussion memiliki kegunaan sebagai alat pengumpul data, alat untuk meyakinkan pengumpulan data dan juga berfungsi sebagai alat untuk melakukan re-chek terhadap berbagai keterangan atau informasi yang didapat melalui keterangan sebelumnya, baik keterangan sejenis maupun yang saling bertentangan. Berdasar setting pelaksanaannya ada dua bentuk Focus Group Discussion yaitu yang pelaksanaannya diatur dan dipersiapkan dan yang tidak diatur setting maupun pelaksanaannya.
            Focus Group Discussion diatur dan dipersiapkan, pelaksanaannya adalah kita mengundang beberapa informan kunci (4-7 orang); setelah informan kunci hadir kemudian baik secara formal maupun tidak, beberapa pernyataan atau pertanyaan kita ajukan; dari sanalah selanjutnya dibangun sebuah diskusi yang melibatkan semuanya. Tugas kita adalah melemparkan dan meminta penjelasan lebih lanjut tentang berbagai isu yang masih diragukan, simpang siur, perlu klarifikasi kepada para informan kunci. Kita tidak perlu menentang, mendebat keterangan mereka, minimalkan pendapat kita seminimal mungkin. Sekali lagi tugas kita hanya mengatur bagaimana agar diskusi berlangsung dengan baik dan seluruh peserta berpartisipasi.
            Focus Group Discussion yang tidak diatur setting dan pelaksanaannya sangat mirip dengan interview partisipatif hanya berbeda dalam jumlah subyek yang terlibat.

E. ALAT PERMAINAN & HASIL KARYA
Pengumpulan bahan melalui alat permainan bisa dijadikan sarana memperoleh data tentang subjek atau individu yang menjadi sasaran penggalian informasi. Dengan ditunjang oleh metode observasi, individu dibiarkan untuk berekspresi dengan alat permainan yang disenangi, saat individu terkonsentrasi pada alat permainan baru selanjutnya proses pencatatan data tentang diri individu dilakukan.
Begitu juga mengenai hasil karya yang berupa lukisan, puisi, prosa atau tulisan tangan, dapat dijadikan sarana penggalian data tentang individu yang ingin dicari informasinya. Asumsinya adalah bahwa segala gerakan manusia adalah ekspresi dari kehidupan jiwanya.




F. ANAMNESA (RIWAYAT HIDUP)
            Penggalian riwayat hidup ini ditujukan untuk mengetahui data diri individu selama rentang perkembangan jangka panjang yang terjadi dalam kehidupannya.
            Keniston dan Sundberg (dalam Sumintardja,1991), mengemukakan bahwa yang tercakup dalam penelusuran latar belakang kehidupan adalah:
1.      Menelusuri tema hidup seseorang. Maksudnya adalah menggali segala kejadian dalam kehidupan individu, terutama tekanan-tekanan yang dialaminya, yang berinteraksi dengan kebutuhan-kebutuhan dirinya, sehingga menimbulkan perasaan puas maupun tidak puas
2.      Menelusuri sebab-sebab terjadinya gangguan psikis/keluhan. Dalam hal ini dideeksi seluruh kejadian dalam kehidupan individu yang diduga menjadi faktor pencetus terjadinya keluhan atau gangguan jiwa.
3.      Menelusuri dugaan atau ramalan/prediksi. Maksudnya mencari korelasi dari karakteristik, sifat-sifat subjek dengan suatu kriterium, norma tertentu untuk memberikan gambaran sejauhmana keserasian karakteristik tersebut dengan kriteria,guna menetapkan suatu prediksi tingkah laku.

            Teknik yang digunakan untuk menelusuri latar belakang kehidupan adalah sebagai berikut:
1.      Menelusuri sejarah kehidupan individu ,ulai dari masa kanak-kanak sampai dengan usia individu mengalami suatu persoalan. Menelusuri pula apakah individu mampu melampaui tugas-tugas perkembangan sebagaimana seharusnya dan pada tahapan mana individu mengalami suatu tekanan yang sifatnya tidak terselesikan atau tidak tertangani.
2.      Penggunaan prosedur tes untuk mengidentifikasikan potensi yang dimiliki individu, juga untuk menelusuri taraf kematangan yang dimiliki.
3.      Menelusuri apakah ada kecenderungan perubahan kepribadian pada  diri individu antara sebelum dan sesudah terkena suatu permasalahan.


            Ditinjau dari cara riwayat hidup itu sendiri ditelusuri maka ada dua jenis pemahaman riwayat hidup, yaitu:
1.      Auto anamnesa, yaitu bila penggalian data bersumberkan dari informasi individu yang mengalami suatu permasalahan
2.      Allo anamnesa, yaitu bila individu berada pada posisi tidak mampu memberikan informasi secara tepat, sehingga dibutuhkan orang lain disekitar individu dalam proses penggalian data tentang individu.

G. ALAT TES
Klasifikasi Alat Tes
Alat tes untuk melakukan pemeriksaan psikologis secara garis besar dapat diklasifikasikan kedalam tes inteligensi, tes bakat, tes kepribadian dan tes minat. Kedua tes pertama disebut tes kognitif, sedangkan kedua tes terakhir disebut tes non-kognitif.
Tes inteligensi ialah tes yang mengungkap kapasitas intelektual individu. Tes inteligensi digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan umum seseorang guna memperkirakan apakah suatu pendidikan atau pelatihan tertentu dapat diberikan kepadanya. Nilai tes inteligensi seringkali juga dikaitkan dengan umur, bagaimana kedudukan relatif IQ individu dengan kelompok umur sebayanya.
Tes Bakat atau sering disebut juga tes bakat khusus, mencoba untuk mengetahui kecenderungan kemampuan khusus dibidang-bidang tertentu.
Tes Kepribadian mencoba untuk mengungkap berbagai ciri kepribadian tertentu seperti introversi,penyesuaian sosial dan sebagainya yang berkaitan dengan kepribadian.
Tes Minat mengungkap reaksi seseorang terhadap berbagai situasi yang secara keseluruhan akan mencerminkan minatnya. Minat yang terungkap melalui tes minat ini seringkali menunjukkan minat yang lebih mewakili dari pada minat yang sekedar dinyatakan yang biasanya bukan merupakan minat yang sesungguhnya.


Alat tes psikologi juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Banyaknya testee                : tes individual atau tes kelompok
2.      Cara penyelesaiannya         : tes verbal atau tes non verbal
3.      Cara menilai tes                  : tes alternatif (benar-salah) atau graduil (penilaian
  antara 1,2,3,4 dst….)
4.      Fungsi psikis                       : tes perhatian, memori, penalaran, pemahaman
5.      Isi dan waktu tes                 : speed tes dan power tes
6.      Latar belakang teori            : tes proyektif atau non proyektif
7.      Bentuk tes                          : benar-salah, isi, mencari pasangan, deret angka,
                                                  mengatur objek
8.      Nama pencipta                   : Rosarchach, Pauli, Kraeplin, Binnet, dll

            Kelengkapan, representatifitas dan kesahihan alat tes adalah sangat penting. Namun pemeriksaan dengan menggunakan alat tes psikologi, saat ini sedang menghadapi banyak masalah :
1.      Fenomena banyak beredarnya alat tes psikologi dipasaran bebas
2.      Fenomena banyak alat tes yang belum terstandardisir yang telah digunakan sebagai alat utama pengukuran psikologis oleh banyak kalangan psikologi
3.      Kecenderungan psikologi Indonesia hanya sebagai pengguna alat tes produk luar negeri, tanpa berkreasi menciptakan alat tes sendiri atau mencari alternatif pemeriksaan yang lain.

H. TES PSIKOLOGIS
Suryobroto mengemukakan bahwa tes adalah „pertanyaan-pertanyaan“ yang harus dijawab dan atau perintah yang harus dijalankan, yang berdasar atas bagaimana testee menjawab pertanyaan dan atau melakukan perintah itu. Kemudian hasilnya diambil kesimpulan dengan cara membandingkannya dengan standart atau testee yang lain.
            Metode ini dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari metode klinis (kualitatif), yaitu terutama dari segi subjektivitas. Selain itu menggunakan metode tes dalam diagnosa psikologi dipandang lebih memenuhi kriteria. Alasan digunakan metode tes ini adalah:
1.      untuk mengatasi subjektivitas kualitatif
2.      untuk mempersingkat waktu atau mengurangi penggunaan waktu yang panjang dalam menangani kasus perkasus
3.      karena waktu singkat, maka dapat digunakan untuk mengurangi biaya dan tenaga
4.      lebih menekankan pada objektivitas dan efisensi


























III. PERKEMBANGAN METODE TES

A. FASE PERSIAPAN/PERIODE PERSIAPAN
Tes psikologi digunakan oleh bidang pendidikan pada mulanya., yaitu untuk pengukuran mental, inteligensi normal dan tidak normal, yang mengalami gangguan emosional dan lain-lain diklasifikasikan bidang pendidikan tertentu. Pada awal abad 19, muncul pemikiran untuk memperlakukan orang yang tidak normal lebih manusiawi. Berikut ahli-ahli yang memperhatikan hal tersebut :
1.      Esquirol, ahli pertama yang menggunakan istilah MR (mental retardation) dalam buku-bukunya. Ia mengkategorikan MR sebagai suatu garis kontinum dari normal ke idiot. Ia mencoba beberapa prosedur & menemukan bahwa kemampuan penggunaan bahasa pada diri seseorang mencerminkan tingkat intelektualnya. Muncul tes inteligensi yang berupa pertanyaan dan dengan tuntutan jawaban secara verbal, sehingga individu MR atau bukan tergantung pada kemampuan menggunakan bahasa verbal.
2.      Sequin, mempelopori dalam bidang pelatihan terhadap individu-individu yang mengalami MR. Ia menolak anggapan bahwa MR tidak dapat dilatih. (diperbaiki). Ia mengembangkan teknik latihan kepekaan indra & latihan otot (gerak) serta kontrol terhadap gerak motorik. Gagasan Sequin memberikan ide bagi pembuat tes psikologis secara inverbal (perfomence). Selanjutnya pada tahun 1837 Sequin mendirikan sekolah/intruksi khusus untuk anak-anak MR.

B. EKSPERIMEN PSIKOLOGI YANG PERTAMA
Orientasi psikologi eksperimen yang pertama pada abad 19 adalah membuat formula atau gambaran tingkah laku manusia yang dapat digeneralisasi (terfokus pada kesamaan tingkah laku individu), sehingga jika ada individu yang berbeda dianggap menyimpang (tokohnya adalah W.Wundt). Sumbangannya: pengukuran ketepatan visual,pengukuran ketepatan pendengaran, pengukuran ketepatan kepekaan indera (dalam waktu yang terbatas).



C. FRANCIS GALTON
Melalui laboratorium Anthropemetriknya (secara keturunan) menemukan standardisasi. Ketelitian penglihatan dalam membedakan panjang suatu benda, ketajaman pendengaran atau kepekaan sensoris, mencoba menerapkan penggunaan rating scale & kuesioner untuk berbagi tujuan, mengembangkan metode statistik untuk analisis data dalam mengukur perbedaan individual. Tes kepekaan yang ditemukan dapat mengukur daya intelektual individu. Hal ini disebabkan karena individu yang mengalami MR cenderung untuk tidak memiliki kemampuan untuk membedakan panas, dingin dan rasa sakit.

D. CATTELL & SEJARAH ADANYA TES MENTAL
Cattel menggunakan istilah mental tes untuk menerangkan serangkaian tes yang dilakukan terhadap para mahsiswa untuk menentukan tingkat inteligensi mereka. Tes yang diciptakan sejenis tes individual dan yang diukur dalam tes tersebut adalah : kekuatan otot, sensitivitas terhadap rasa sakit, perbedaan berat badan, kecakapan gerak, ketajaman penglihatan dan pendengaran, waktu reaksi dan memori. Dalam tes ini Cattell sepandangan dengan Galton bahwa ukuran fungsi intelektual dapat diperoleh melalui tes perbedaan sensorik dan waktu reaksi.

E. PERIODE PENGGUNAAN TES SEACARA NAIF
Periode ini tes psikologi yang ada digunakan secara berlebihan oleh lembaga-lembaga formal atau resmi dengan tanpa memandang kelemahan-kelemahannya. Misalnya suatu tes yang dibuat atau diciptakan pada suatu latar belakang kebudayaan tertentu, digunakan oleh pemakai dengan latar belakang kebudayaan lain, hasil yang diperoleh adakalanya tidak menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya yang disebabkan oleh adanya perbedaan kebudayaan tersebut. Selain itu penggunaan tes ini dirasa ada kelemahannya yaitu tes yang ada pada saat itu masih tergantung pada  kebudayaan tertentu. Dari kelemahan inilah muncul penggunaan tes pada periode ke 2 yaitu periode free culture.


F. PERIODE FREE CULTURE`
Periode ini mulai ada suatu gerakan untuk membuat tes yang bebas dari kebudayaan (free culture) Tes yang dibuat dihimbau tidak hanya berlaku pada satu macam kebudayaan saja, tetapi berlaku terhadap berbagai macam kebudayaan. Salah satu usaha dalam menciptakan tes yang free culture yaitu tes yang menggunakan gambar-gambar yang dapat diketahui semua orang, misalnya gambar geometris. Tes semacam ini kemudian dikembangkan lebih jauh. Namun dalam kenyataannya ternyata tes semacam ini masih dipengaruhi oleh unsur kebudayaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada tes yang benar-benar bebas budaya. Selanjutnya berkembang periode ke tiga, yaitu periode culture fair (adil budaya), yaitu suatu periode dimana suatu tes yang dibuat bisa diterapkan pada kebudayaan lain dengan jalan adaptasi.

G. PERIODE PENGGUNAAN TES SECARA KRITIS
Pada periode ini seorang pemakai tes harus mengetahui tentang baik buruknya, efisien tidaknya atau memenuhi syarat atau tidaknya suatu tes. Syarat-syarat tes yang baik haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.      Valid, yaitu sejauh mana tes itu mengukur apa yang seharusnya diukur. Makin tinggi validitas suatu tes maka tes tersebut makin menunjukkan apa yang seharusnya diukur.
2.      Reliabilitas, yaitu sejauhmana tes itu sama dengan dirinya sendiri. Atau keajegan alat tes sebagai alat ukur.
3.      Standardisasi, yaitu suatu tes bertujuan agar setiap testee yang diukur dengan alat tersebut mendapat perlakuan yang benar-benar sama.Standardisasi ini meliputi : materi, penyelenggaraan, skoring dan interpretasi.
4.      Objektivitas,  yaitu penilaian tes harus objektif, baik dari segi adminiatrasi maupun interpretasi.
5.      Diskriminatif, suatu alat tes harus dapat mengungkapkan gejala-gejala tertentu dan menunjukkan perbedaan gejala antar individu satu dengan yang lain.
6.      Comprehensiv, suatu alat tes sebaiknya mampu menyelidiki banyak hal sekaligus.
7.      Mudah digunakan, tidak mempersulit pemakaian dalam menyelenggarakan tes tersebut.




























IV. TES INTELIGENSI

A. KONSEP INTELIGENSI
Penggunaan istilah inteligensi sering tidak sama. Wechsler mengatakan bahwa inteligensi merupakan kemampuan untuk bertindak dengan menetapkan suatu tujuan, berpikir secara rasional dan untuk berhubungan dengan lingkungan disekitarnya secara memuaskan. Vermon mengatakan ada tiga arti mengenai inteligensi, pertama inteligensi adalah kapasitas bawaan yang diterima oleh anak dari orang tuanya melalui gen yang nantinya akan menentukan perkembangan mentalnya. Kedua, istilah inteligensi mengacu pada « pandai », cepat dalam bertindak, bagus dalam penalaran dan pemahaman, serta efisien dalam aktivitas mental. Arti ketiga dari inteligensi adalah umur mental atau IQ atau skor dari suatu tes inteligensi. Selanjutnya Vernon menyebut ketiga konsep mengenai inteligensi tersebut sebagai inteligensi A,B dan C.
Inteligensi A dan B pertama sakeli di formulasikan oleh Donald Olding Hebb sebagai faktor yang berhubungan dengan genotype dan phenotype. Faktor genotype (A)  merupakan faktor bawaan termasuk yang berhubungan dengan fisik misalnya otak dan susunan saraf, yang tidak dapat diamati secara langsung yang dapat diamati adalah perilakunya. Faktor Phenotype (B) yaitu bagaimana seseorang bertingkah, cara bicara dan berpikir. Phenotype ini tergantung pada interaksi gen dengan lingkungan prenatal maupun postnatalnya. Jadi inteligensi B yang dapat diamati bukanlah genetic juga bukan hasil belajar saja, melainkan interaksi antara nature dan nature. Inteligensi B tidak statis selama hidup, namun berubah sesuai dengan pendidikan dan pengalaman yang diperoleh individu. Inteligensi C adalah hasil suatu tes inteligensi, yang pada umumnya mengukur inteligensi B, karena dianggap inteligensi A hampir tidak dapat diukur.
Pada waktu yang bersamaan Raymond B Cattel juga memformulasikan fluid intelligence dan crystallized intelligence (pengaruh lingkungan). Cattel mengatakan bahwa kemampuan umum (faktor G) sebetulnya terdiri dari dua komponen yaitu fluid dan crystallized atau GF dan GC. GF adalah pengaruh faktor biologis (bawaan) pada perkembangan intelek, sedangkan GC adalah hasil interaksi kemampuan bawaan dengan kebudayaan, pendidikan dan pengalaman. Konsep ini tampak ada kesamaan dengan konsep inteligensi A dan B dari Hebb. Bedanya menurut Cattel GF dan GC masing-masing dapat diukur dengan tes inteligensi tertentu, sedangkan menurut Hebb inteligensi A hampir tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah inteligensi B.
Akhir-akhir ini tidak diperdebatkan lagi mengenai apa itu inteligensi maupun teori-teori inteligensi, tetapi yang banyak dibicarakan adalah bagaimana mengukur inteligensi dan bagaimana perkembangannya pada anak-anak maupun pada orang dewasa, sehingga muncul banyak berbagai macam tes inteligensi.

B. MACAM-MACAM TES INTELIGENSI
Sampai saat ini sudah banyak tes intelegensi yang disusun oleh para ahli baik tes inteligensi untuk anak-anak maupun orang dewasa, tes inteligensi yang disajikan secara individual maupun secara kelompok, tes verbal dan tes performansi, dan tes intelegensi untuk orang cacat khusus misalnya tuna rungu dan tuna netra.
1.      Tes Inteligensi untuk anak-anak
Contoh : tes Binet, WISC, WPPSI, CPM, CFIT skala 1 dan 2 dan TIKI Dasar
2.      Tes Inteligensi untuk remaja-dewasa
Contoh : TIKI menengah, TIKI tinggi, WAIS, SPM, APM, CFIT skala 3
3.      Tes Inteligensi untuk tuna rungu
Contoh : SON
4.      Tes Inteligensi untuk tuna netra
Contoh : KIT

Intelligence Quotient (IQ)
Hasil tes inteligensi pada umumnya berupa IQ (intelligence quotient), namun ada juga tes inteligensi yang tidak menghasilkan IQ yaitu berupa tingkat / grade (Tes Raven). Istilah Intelligence Quotient pertama kali dikemukakan pada tahun 1912 oleh William Stern, seorang ahli psikologi berkebangsaan Jerman. Kemudian oleh Lewis Madison Terman istilah tersebut digunakan secara resmi untuk hasil tes inteligensi Stanford Binet Intelligence Scale di Amerika Serikat pada tahun 1916.
Perhitungan IQ menuurt William Stern menggunakan rasio antara MA dan CA dengan rumus :
IQ = (MA / CA) x 100
Keterangan :
MA       =    Mental Age (umur mental)
CA        =    Chronological age (umur kronologis)
100       =    Angka konstan.
Dengan berkembangnya ilmu psikologi dan psikometri, IQ rasio dirasa tidak memadai lagi, hal ini karena asumsi konsep ini makin tua harusnya makin baik dalam menunjukkan kemampuan itelektual, tapi nyatanya kemampuan orang tua justru makin menurun. Kemudian diperkenalkan IQ deviasi yaitu dengan dasar rerata (mean) dan SD (standard deviation) dari kelompok yang bersangkutan. IQ deviasi sebenarnya merupakan skor standar, yaitu konversi skor mentah dari suatu distribusi menjadi skor yang menyatakan besarnya penyimpangan (deviasi) dari mean dalam suatu standar.

Interprestasi Hasil Tes Inteligensi
Hasil suatu tes dapat diinterprestasi atau diberi arti dengan cara membandingkan. Perbandingan dapat dilakukan dalam arti diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Membandingkan dalam diri sendiri misalnya pre and post test, sebelum dan sesudah suatu kegiatan untuk mengetahui apakah ada perubahan atau kemajuan, dapat juga suatu kemampuan dibandinkan kemampuan lain dalam diri sendiri (misalnya kemampuan berhitung dibandingkan dengan kemampuan bahasa). Membandingkan dengan orang lain dapat dilakukan dengan cara :
1.      Membandingkan hasil tes individu dengan hasil tes individu lain
2.      Membandingkan hasil tes yang diperoleh individu dengan standar penampilan yang telah diterima umum atau dengan norma yang sudah dibakukan.
Pemberian arti atau interprestasi hasil suatu tes inteligensi biasanya  dilakukan dengan cara membandingkan hasil tes individu dengan hasil tes individu lain dalam kelompok usianya. Perbandingan sudah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga pengguna tes intelegensi dapat langsung melihat table yang sudah disediakan.
Hasil utama suatu tes inteligensi memang berupa IQ atau tingkat inteligensi seseorang, namun berdasarkan is jawaban subjek dari aspek-aspek tertentu yang dijabarkan dalam item-item suatu tes inteligensi, seorang ahli yang sudah berpengalaman dapat menginterprestasi aspek lain selian inteligensi, misalnya aspek klinis, emosi, kreativitas dan yang lainnya.

Klasifikasi Inteligensi
Wechsler mengklasifikasikan inteligensi berdasarkan WAIS, menjadi :
Klasifikasi
IQ WAIS
Persentase
Very superior
Superior
Bright Normal
Average
Dull Normal
Borderline
Defective
130 keatas
120-129
110-119
90-109
80-89
70-79
-69
2,2
6,7
16,1
50,0
16,1
6,7
2,2

Terman dan Merril mengklasifikasikan inteligensi berdasarkan standarisasi Tes Inteligensi Stanford Binet tahun 1973, sebagai berikut :

Klasifikasi
IQ
Persentase
Very Superior
160-169
0,03
150-159
0,2
140-149
1,1
Superior
130-139
3,1
120-129
8,2
High Average
110-119
18,1
Normal Average
100-109
23,5
90-99
23,0
Low Average
80-89
14,5
Borderline Defective
70-79
5,6
Mentally Defenctive
60-69
2,0
50-59
0,4
40-49
0,2
30-39
0,03


Tes Binet
Tes inteligensi yang pertama kali dipublikasikan untuk mengukur kemampuan mental seseorang adalah tes Binet –Simon pada tahun 1905 di Paris-Perancis. Binet menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional. Inteligensi menurut Binet terdiri dari tiga komponen, yaitu : (a) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, (b) kemampuan untuk mengubah arah bila tindakan tersebut telah dilaksanakan atau bila gagal, (c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.
Pada saat pertama kali digunakan, tes Binet-Simon bentuknya sederhana hanya 30 soal yang disajikan secra ururt. Digunakannya tes Binet Simon pada waktu itu karena didorong pemerintah Perancis yang ingin memisahkan pendidikan anak-anak yang kurang cerdas dengan anak yang cerdas agar proses belajar lancar. Tes Binet-Simon ini menarik perhatian para ahli sehingga banyak dilakukan revisi atau adaptasi. Yang paling terkenal adalah adaptasi dan revisi yang dilakukan di Stanford University, Amerika Serikat.
Revisi yang pertama di Stanford University dilakukan oleh Terman pada tahun 1916. kemudian pada tahun 1937 bersama dengan Merrill, tes tersebut direvisi menjadi dua bentuk L dan M. pada tahun 1960 direvisi lagi dengan menggabungkan bentuk L dan M menjadi L-M. revisi keempat terhadap Stanford-Binet Intelligence Scale dilakukan pada tahun 1986 oleh Thorndike dkk. Revisi ini mengalami perubahan yang cukup besar sesuai dengan berkembangnya teori inteligensi maupun psikologi dan semakin canggihnya psikometri.
Tes Binet yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Stanford Binet Inteligence Scale Form L-M, yaitu revisi ketiga dari Terman dan Merril pada tahun 1960. Item-item dalam tes ini dikelompokkan dalam tingkat umur mulai tahun II sampai dengan tahun XIV, selanjutnya dewasa rata-rata, dewasa superior I, II, dan III. Masing-masing tingkat umur terdiri dari 6 soal, kecuali dewasa rata-rata (dan seterusnya) terdiri dari 8 soal. Perhitungan umur mental idealnya dimulai dari umur basal (tingkat umur dimana teste dapat menyelesaikan semua soal dengan benar) dan berakhir dengan umur ceiling (tingkat umur dimana teste tidak dapat mengerjakan dengan benar semua soal). Hasil tes berupa IQ dapat dilihat dalam table IQ dari Pinaneau yang merupakan IQ deviasi dengan mean 100, SD = 16.

Tes Wechler
David Wechsler juga merupakan salah seorang perintis pengembangan tes inteligensi mendefinisikan sebagai kumpulan atau keseluruhan kapasitas seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif.
Wechsler bekerja di rumah sakit Bellevue – New York, karena itu perkali ia menyusun tes inteligensi diberi nama Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (W-B) dalam bentuk parallel I dan II, yang dipublikasikan pada tahun 1939. W-B I kemudian direvisi menjadi Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) pada tahun 1955,dan pada tahun 1981 direvisi lagi menjadi WAIS-R.
Karena kebutuhan akan tes inteligensi untuk anak-anak, maka Wechsler menyusun tes untuk anak umur 8-15 tahun, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) pada tahun 1949 yang merupakan revisi dari W-B II. Pada tahun 1974 diterbitkan revisinya yaitu WISC-R. pada tahun 1963 dipublikasikan Wechsler Preschool dan Primary Scale of Intelligence (WPPSI) untuk anak usia 4-6 ½ tahun. Dengan demikian lengkaplah tes inteligensi dari Wechsler, mulai dari anak pra sekolah sampai dewasa.
Ketigas tes Wechsler tersebut pada dasarnya sama, yaitu terdiri dari subtes verbal dan performance. Namun demikian walaupun sudah menguasai salah satu tes Wechsler, untuk dapat menyajikan tes Wechsler yang lain seseorang harus mempelajari dna melakukan latihan lebih dahulu, karena detail-detail te kemungkinan tidak sama. Terutama pada performance perbedaannya cukup berarti. Misalnya pada tes rancangan balok, untuk WAIS, WISC dan WPPSI, masing-masing berbeda bentuk maupun warna baloknya.

Tes Raven
Raven Progressive Matrices (RPM) merupakan tes inteligensi yang dapat disajikan secara kelompok maupun individual. Materi tes ini berupa gambar dengan sebagian yang terpotong. Tugas subyek adalah mencari potongan yang cocok untuk gambar tersebut dari alternatif potongan-potongan yang sudah disedikan. Dari tes Raven tidak ditemukan IQ seseorang melainkan taraf inteligensi yang dibagi dalam Grade I sampai Grade V yang ditentukan berdasarkan persentil.
Tes Raven sering disebut sebagai tes yang culture fair, maksudnya adil untuk semua kebudayaan yaitu adil jika semua orang tidak tahu, diasumsikan bahwa gambar-gambar matriks dalam item tes Raven semua orang tidak tahun, juga tidak membutuhkan kemampuan bahasa atau nonverbal.
Tes ini mengungkap kemampuan memahami figure yang tidak berarti dengan mengobservasi dan berpikir jernih pada saat mengerjakan tes tersebut, kemudian melihat hubungan-hubungan antara figur-figur yang ada dan akhirnya mengembangkan penalaran.
Pertama kali Raven menyusun Standard Progessive Matrices (SPM) yang terdiri dari 60 item, yang dikelompokkan dalam 5 seri yaitu : A, B, C, D, E (setiap seri 12 item). SPM dapat dikenakan untuk semua umur. Hasilnya berupa persentil dan grade dari inteligensi.
Karena kebutuhan tes untuk anak-anak, disusun Coloured Progessive Matrices (CPM) untuk anak-anak umur 5-11 tahun, CPM juga dikenakan pada orang tua atau lanjut usia diatas 60 tahun dengan pendidikan rendah atau menengah. CPM  terdiri 36 item yang dikelompokkan dalam 3 seri yaitu : A, Ab, B (setiap seri 12 item). Hasilnya berupa persentil dan grade dari inteligensi.
Karena kebutuhan tes untuk orang-orang yang diatas normal (superior) disusun Advanced Progessive Matrices (APM). Yang terdiri dari dua set / seri. Set I terdiri dari 12 item dan set II terdiri 36 item. Set I sebetulnya merupakan pemanasan atau pengenalan pola / matrik yang digunakan, sekaligus juga merupakan langkah awal menjajagi kemampuan individu. Apabila dalam set I subyek tidak mampu menjawab dengan betul sebanyak 6 item dari 12 item yang disedikan, maka APM set II tidak perlu disajikan, tes dilanjutkan dengan SMP. Apabila subyek mampu menjawab dengan betul 6 item atau lebih baru diteruskan dengan set II. Hasil tes berupa persentil.


Culture Fair Inteligence Test (CFIT)
CFIT disusun oleh R.B Cattell, terdiri dari 3 bentuk yaitu :
1.      Skala 1 untuk anak usia 4-8 tahun.
2.      Skala 2 untuk anak usia 8-13 tahun atau dewasa rata-rata
3.      Skala untuk murid SLTA ke atas atau dewasa superior.




















TES BAKAT

Konsep Bakat
Konsep bakat muncul karena ketidakpuasa terhadap tes inteligensi yang menghasilkan skor tunggal yaitu IQ. Semula IQ inilah yang digunakan sebagai dasar pertimbangkan dalam perencanaan di berbagai bidang. Namun demikian IQ tidak dapat memberikan banyak informasi, jika ada dua orang mempunyai IQ yang sama, tetapi prestasi belajar atau prestasi kerjanya berbeda. Orang yang satu mempunyai skor tinggi pada tugas-tugas yang menuntut kemampuan verbal, sedangkan orang yang lain mempunyai skor rendah pada tugas verbal, tetapi mempunyai skor tinggi pada tugas yang menuntut kemampuan berhitung.
Dari hasil tes inteligensi kelompok ini diperoleh kesimpulan bahwa skor masing-masing subtes pada individu yang sama terbukti berbeda. Hal ini membuktikan bahwa tes inteligensi mempunyai variasi internal. Analogi dengan tes inteligensi individual berarti sesungguhnya hasil tes yang ditujukan dengan IQ mengandung variasi internal. Perlu diketahui tes inteligensi tidak memberikan rekomendasi untuk melakukan analisis kemampuan secara diferensial. Dalam bidang klinis, para ahli biasanya melakukan interkomparasi terhadap berbagai subtes inteligensi guna mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang kondisi psikologis paseinnya.
Definisi tidak jauh berbeda dengan definisi inteligensi, seperti yang dikemukakan oleh Bingham, bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan. Jadi bakat merupakan hasil interaksi antara hereditas dan pendidikan.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut dan seiring dengan hasil penelitian pada ahli yang menggunakan metode analisis fackor terbukti bahwa kemampuan yang diukur tes inteligensi merupakan kemampuan yang jamak (multifactor). Pelopor yang menggunakan analisa factor untuk mengalasis kemampuan umum (general ability) adalah Spearman yang dikenal dengan teori dua factor, kemduian diikuti Thurstone, Guilford dan Vernon.
Teori dua factor menerangkan bahwa setiap aktivitas mental ditunjukkan oleh factor spesifik (s) yang berbeda. Semua factor spesifik itu akan secara bersama membentuk single common factor yang disebut dengan general (g). dengan demikian maka setiap perilaku akan terdiri dari factor s yang berbeda dan factor g yang selalu sama.
Thurstone terkenal dengan teori primary mental ability. Kemampuan mental primer meliputi pemahaman verbal (V), kelancaran verbal (W), pemahaman konsep angka (N), ruang (S), ingatan asosiasi (M), kecepatan persepsi (P), induksi (I) atau penalaran umum (R).
Guilford terkenal dengan teori struktur inteletual, yang memandang inteligensi terdiri dari tiga dimensi, yaitu operasi, isi dan produk. Operasi meliputi hal-hal yang dilakukan seseorang seperti kognisi, memori, divengent production, convergent production dan evaluasi. Isi yaitu materi-materi yang dimiliki seseorang terdiri dari simbol-simbol, kata-kata seseorang seperti tingkah laku dan lain-lain, dan informasi tentang macam-macam hal yang berkaitan dengan produk, relasi, system, tranformasi dan implikasi. Produk adalah proses bagaimana informasi diolah. Berdasarkan teori ini setiap manusia mempunyai 120 macam kemampuan yang merupakan gabungan dari 3 hal tersebut.
Selanjutnya Guilford menyebutkan dimensi bakat meliputi persepsi, psikomotorik dan intelek. Dimensi persepsi yang diukur adalah kepekaan dari masing-masing pancaindera, yang berhubungan dengan perhatian atau persiapan melakukan observasi seperti kepekaan penglihatan, pendengaran dan kinestesi. Dimensi psikomotorik yang diukur meliputi kekuatan, kecepatan (speed), kecepatan permulaan suatu aktivitas (impulsion), ketepatan, koordinasi dan fleksisibilitas gerakan. Dimensi intelek meliputi ingatan dan berpikir.
Teori Vernon adalah teori hirarki, dengan hirarki yang tertinggi adalah faktor g. Faktor g itu sama dengan faktor g dari Spearman. Di bawah faktor g ad dua kelompok faktor yatu verbal aducational yang disebut juga sebagai kemampuan akademik dan kemampuan spatial perceptual-practical, sering disebut pula sebagai kemampuan praktis. Kemampuan akademik meliputi verbal, numeric, psikomotorik dan kemampuan fisik seperti persepsi. Hirarki selanjutnya terdiri dari faktor-faktir spesifik.
Berdasarkan teori multifactor itulah maka disusunlah baterai tes bakat yang memberikan rekomendasi untuk melakukan analisis diferensial, seperti FACT, DAT dan GATB. Perlu diketahui disamping teori bakat multifactor, adapula teori bakat spesifik. Teori ini memandang bahwa masing-masing bakat itu pilah, tidak saling berhubungan, tidak terdapat pada setiap orang dan pada orang dan orang yang berbeda mempunyai bakat yang berbeda. Dari tes bakat yang disusun berdasarkan  teori multifactor maka hasil akhir berupa profit kombinasi dari dari kemampuan yang diukur oleh baterai tes. Tes bakat yang disusun berdasarkan teori bakat spesial jika seseorang diukur oleh dua tes bakat, maka kedua nilai tidak merupakan profit, tetapi pilah sama sekali.

Tujuan Mengetahui Bakat Seseorang
Tujuan mengetahui bakat adalah untuk dapat melakukan diagnosa dna presiksi. Tujuan diagnosis adalah dengan mengetahui bakat seseorang maka akan dipahami potensi yang ada pada seseorang. Dengan demikian dapat membantu untuk analisis permasalahan yang dihadapi testi di masa kini secara lebih cermat. Permasalahan itu baik dalam bidang pendidikan, klinis maupun industri. Dengan bantuan tes bakat diharapkan psikologi dapat memberikan treatment secara tepat.
Tujuan prediksi adalah untuk memprediski kemungkinan kesuksesan satu kegagalan seseorang dalam bidang tertentu di masa depan. Perediksi meliputi seleksi, penempatan dan klasifikasi. Perlu diketahui pada dasarnya prediksi adalah mempertemukan potensi seseorang dengan persyaratan yang dituntut oleh sutau lembaga.

Faktor-faktor yang diungkap Tes Bakat
1.       Kemampuan verbal              :   kemampuan memahami dan menggunakan bahasa baik secara lisan atau tulisan.
2.       Kemampuan numerical         :   kemampuan ketepatan dan ketelitian memecahkan problem aritmatik / konsep dasar berhitung.
3.       Kemampuan spatial              :   Kemampuan merancang suatu benda secara tepat
4.       Kemampuan perceptual        :   Kemampuan mengamati dan memahami gambar dua dimensi menjadi bentuk tiga dimensi.
5.       Kemampuan reasoning         :   kemampuan memcahkan suatu masalah
6.       Kemampuan mekanik           :   kemampuan memahami 2 konsep mekanik dan fisika
7.       Kemampuan memori            :   kemampuan mengingat
8.       Kemampuan clerical             :   kemampuan bekerja di bidang administrasi
9.       Kreativitas                           :   kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru dan menunjukkan hal yang tidak biasa / istimewa
10.   Kecepatan kerja                  :   kemampuan bekerja secara cepat terutama untuk pekerjaan yang rutin
11.   Ketelitian kerja                     :   kemampuan bekerja secara teliti
12.   Ketahanan kerja                   :   kemampuan bekerja secara konsisten.

Keterbatasan Tes Bakat
Tes bakat mempunyai keterbatasan, diantara keterbatasan itu adalah :
1.      Tes bakat hanya mengukur sample perilaku yang ditunjukkan oleh sample butir tes.
2.      Standarisasi tes tergantung pada keadaan sample standarisasi. Dengan demikian perkembangan budaya dan kemajuan teknologi akan mempengaruhi validitas tes.
3.      Reliabilitas te jarang mempunyai koefisien reliabilitas sama dengan satu, berarti testing lebih satu kali pada satu individu yang sama tidak akan menunjukkan hasil yang sama persis.
4.      Dengan pengukuran bakat bukan berarti telah memahami kondisi psikologis seseorang secara komprehensif. Untuk tujuan diagnosis dan prediksi akan lebih akurat jika dilakukan pengukuran aspke psikologis secara komprehensif.

Macam-macam Tes Bakat
Tes bakat dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu :
1.      Kelompok baterai tes yaitu rangkaian bermacam-macam tes yang masing-masing tes dapat berdiri sendiri tidak harus digunakan secara keseluruhan.
Contoh : Defferential Aptitude Test (DAT), General Aptitude Test Battery (GATB), Flanagan Aptitude Classification (FACT).
2.      Kelompok Single Test, yaitu tes bakat yang terdiri dari satu jenis tes dan pada umumnya mengungkap kemampuan khusus yang dimiliki seseorang.
Misal : tes sensory, tes artistic, tes klerikal, tes kreativitas, te motor dexterity, tes Kraeplin, Pauli.























TES KEPRIBADIAN

Pengertian Kepribadian
Dalam istilah sehari-hari, istilah personality sering dipakai untuk menjelaskan suatu kepribadian yang spesifik pada seseorang. Namun dari sudut pandang psikologi, pada umumnya kepribadian diartikan sebagai suatu konsep yang umum, dan dapat diterapkan pada setiap orang. Banyak pengertian yang disampaikan namun tidak ada yang dapat diterima secara universal. Salah satu batasan yang telah ada sejak beberapa waktu adalah yang dikemukakan oelh Allport yaitu : kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis, yang berada dallam diri individu, dari sistem psikofisik yang menciptakan pola karakteristik individu dalam berperilaku, berpikir dan merasakan. Para ahli psikologi berpendapat bahwa batasan yang dikemukakan Allport sudah mencakup banyak hal, sehingga banyak yang menerima dan sering digunakan.

Alat Ukur Kperibadian
“Tes Kepribadian” merupakan suatu alat ukur yang disusun untuk mengungkapkan kepribadian seseorang. Sebagaimana alat ukur psikologis lainnya, tes kepribadian dalam penyusunannya mendasarkan pada suatu teori tertentu dalam melihat kepribadian. Namun perlu diketahui bahwa ada banyak pandangan atau teori yang mencoba menjelaskan tentang kepribadian, oleh karena itu cara mengukur kepribadian pun tidak sama. Selain itu untuk menggunakan suatu alat ukur kepribadian perlu melihat landasan teoritisnya, sehingga dapat menggunakan alat tersebut dengan tepat.
Ada banyak alat tes yang disusun untuk mengungkap kepribadian, namun demikian secara garis besar dapat dikelompokkan berdasar :

                                                            Proyektif
  1. Teknik pengungkapannya
Non Proyektif


                                          Verbal
  1. Bentuk alat
Non verbal

Tes kepribadian yang menggunakan teknik proyektif sering disebut dalam bahasa sehari-hari sebagai Tes Proyektif.

Tes Proyektif
Disebut demikian karena ingin mengungkapkan kondisi kepribadian melalui proyeksi. Proyeksi merupakan suatu proses pelampiasan dorongan, perasaan dan sentimen seseorang keluar melalui suatu media sebagai suatu mekanisme pertahanan diri, dimana proses tersebut terjadi tanpa disadari oleh yang bersnagkutan. Adapun tes proyektif adalah alat ukur kepribadian yang mengungkap kepribadian menggunakan media atau materi sebagai tempat untuk memproyeksikan dorongan, perasaan ataupun sentimen seseorang.

Syarat-syarat Teknik Proyektif
Untuk dapat disebut menggunakan teknik proyektif, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh media alat ukur, yaitu :
1.      Mempunyai media khusus untuk proyeksi
2.      Mempunyai sifat polivalensi alat banyak mengandung nilai
3.      rangsangnya bersifat unstructured
4.      pendekatan yang holistic
5.      Disguese testing

Macam-macam Tes Proyektif
Secara garis besar tes proyektif dapat dipilah menjadi dua macam yaitu yang berbentuk verbal dan non verbal.
a.       Tes proyektif verbal, yaitu tes proyektif yang materinya maupun reaksi subyek dan instruksinya menggunakan bahasa, sehingga dalam tes ini dituntut suatu kemampuan bahasa. Konsekuensi dari tuntutan ini adalah membatasi penggunaan tes. Contoh tes proyektif verbal adalah SSCT dan EPPS.
b.      Tes proyektif non verbal, yaitu tes proyektif yang memakai bahasa hanya isntruksinya saja. Kemampuan bahasa subyek didalam mereaksi rangsang yang disajikan tidak dituntut. Oleh karena itu tes jenis ini lebih luas penggunaannya, karena dapat dikenakan pada hampir setiap orang. Contoh dari tes proyektif non verbal adalah : TAT, Rorschach, tes Wartegg, Baum, DAM, HTP.

Rorschach / Tes Ro
Merupakan tes proyektif yang paling populer. Dikembangkan oleh Hermann Rorschach. Tes Ro menggunakan bercak tinta untuk alat bantu diagnosis kepribadian secara menyeluruh. Tes ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1921.
Materi terdiri dari 10 buah kartu, 5 kartu diantaranya berwarna dan lainnya hitam putih. Langkah yang dilakukan untuk interprestasi adalah melalui scoring. Skoring didasarkan pada pengelompokkan jawaban subyek dan dipilah menjadi 3 kategori utama, yaitu : (a) lokasi (bagian bercak mana yang digunakan untuk membuat jawaban), (b) determinan (bagaimana seseorang melihat bercak), dan (c) content (apa isi jawabannya).

TAT
Thematic Apperception Test merupakan salah satu bentuk tes kepribadian yang menggunakan teknik proyektif. Tes ini disusun oleh Henry A. Murray dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1935.
Materinya berupa kartu yang bergambar sebanyak 19 kartu dan 1 kartu kosong. Yang diungkap oleh tes ini adalah inner world seseorang yaitu : motif, kesadaran dan ketidaksadarannya.

Tes Wartegg
Merupakan tes yang disusun oleh Ehrig Wartegg, menggunakan pendekatan psikologi gestalt. Pengertian kepribadian diartikan dalam segi praktis yaitu bagaimana kepribadian itu berfungsi atau bekerja dalam diri individu.
Ada empat fungsi dasar menurut Wartegg, yang dimiliki oleh manusia dengan intensitas yang berbeda-beda. Keempat fungsi dasar tersebut adalah : emosi, imajinasi, intelek dan aktivitas.
Dalam menginterprestasikan te Wartegg ada dua pendekatan yang dapat digunakan yaitu :
1.      Pendekatan dari Wartegg, dimana dalam interprestasi secara kualitatif.
2.      Pendekatan menurut Kinget, dalam melakukan interprestasi melalui cara kuantitaf dan kualitatif.

Secara umum dalam melakukan interprestasi adalah berdasarkan pada :
a.       Contect (isi), yaitu berdasarkan jenis gambar yang dibuat oleh subyek.
b.      Execution, yaitu berdasarkan pada bagaimana subyek menggambar.

Tes Grafis
Pada umumnya tes ini terdiri dari 3 buah tugas, yaitu :
a.       Gambar orang (DAP)
b.      Gambar pohon (tree test)
c.       Gambar rumah, pohon dan orang (HTP)
Tes ini memberi kemungkinan testi menampilkan ekspresi bebas dalam bentuk gambar sesuai dengan yang ditugaskan. Prinsip tes ini adalah menggambarkan sesuatu obyek yang sangat dekat dengan dirinya, namun dibatasi dengan kaidah yang tidak terlalu mengikat. Sebagai alat asesmen kepribadian, tes grafis dapat digunakan untuk testi usia mudah sampai usia dewasa dan layak untuk mengetesan pribadi, seleksi maupun konseling. Melalui tes ini dapat diperoleh gambaran tentang “self image” dna “ideal self image”.

Tes Non Proyektif
Tes kepribadian ini sering disebut sebagai tes yang bersifat obyektif. Pada umumnya berbentuk inventori. Dari segi penyelenggaraannya mudah dan praktis karena bisa digunakan secara klasikal. Pemberian “nilai”nya jelas karena bersifat obyektif. Kelemahannya banyak terjadi faking dan malingering.

Macam-macam Tes Non Proyektif
Pada umumnya alat kepribadian yang tidak menggunakan teknik proyektif menggunakan bentuk inventori. Pada jenis yang berbentuk inventori ini antara  lain :
1.      Sixteen PF (Sixteen Personality Factors)
2.      NSQ (Neurotic Scale Questionaire)
3.      MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory)
4.      CAQ (Clinical Analysis Inventory)
5.      CPI (California Personality Inventory)
6.      EPPS (Edwads Personal Preferrence Schedule)

Sixteen Persomality Factors Questionaire
Suatu alat untuk mengungkap kepribadian yang disusun oleh Raymond B. Cattel dijelaskan oleg Cattel bahwa 16 PF adalah suatu skala yang merupakan rangkaian dari 16 kuesioner dan bersifat mulltidimensional. Meskipun masing-masing kueionernya besifat mandiri, namun skala tersebut disatukan dalam satu bentuk instrumen. 16 PF dirancang sebagai alat ukur yang bersifat praktis dalam penyelenggaraannya.
16 PF mempunyai 5 macam bentuk yaitu : A, B, C, D dan E, tes ini dapat dikenakan untuk mereka yang telah berusia 16 tahun ke atas. Bentuk A dan B untuk praktek klinis (187 item). Bentuk C dan D dirancang untuk umum (105 item), sedangkan bentuk E untuk mereka  yang tingkat pendidikan dan atau kemampuan bacanya rendah.
Tes ini mengungkap 16 skala kepribadian : 1) Skala A (mengukur taraf hubungan sosial), 20 Skala B (mengukur kecerdikan individu), 3) Skala C (mengukur kekuatan ego), 4) Skala E (mengukur dominasi) 5) Skala F (mengukur impulsivitas seseorang), 6) Skala G (mengukur konformitas), 7) Skala H (mengukur keberanian), 8) Skala I (mengukur sensitivitas emosi), 9) Skala L (mengukur taraf kecurigaan seseorang), 10) Skala M (mengukur imajinasi), 11) Skala N (mengukur taraf ketajaman berpikir), 12) Skala O (mengukur kecenderungan rasa bersalah), 13) Skala Q1 (mengukur sikap menentang / melawan), 14) Skala Q2 (mengukur taraf kecukupan diri), 15) Skala Q3 (mengukur kemampuan mengatasi kecemasan), 16) Skala Q4 (mengukur taraf ketegangan individu).

MMPI
Minnesota Multiphasic Personality Inventory, disusun untuk mengungkap karakteristik umum dari abnormalitas/ketidakmampuan psikologis. Berbentuk inventori, terdiri dari 550 pertanyaan affirmative denngan pilihan respons benar, salah atau tidak dapat mengatakan. Dikenakan untuk individu yang berusia 16 tahun ke atas.
Pernyataan item meliputi : kesehatan, simtom psikosomatis, gangguan neurologis, gangguan motorik, seksual, religius, politik, sikap social, pendidikan, pekerjaan, keluarga dan perkawinan, serta manifestasi perilaku neurotik atau psikotik seperti obsesif kompulsif, delusi, halusinasi, fobia, sadistic dan masochis.

Neurotic Scale Questionaire (NSQ)
Disusun oleh Ivan H. Scheier dan R.B. Cattell. Merupakan salah satu kepribadian yang berbentuk inventori. Yang diungkap dalam tes ini adalah ; kecenderunngan neurotik dan tinngkat neurotiknya.
NSQ dapat dikenakan pada seseorang yang telah berusia remaja/dewasa NSQ terdiri dari 4 faktor yang mengacu pada 16 PF, yaitu :
1.      Faktor l
2.      faktor Faktor
3.      faktor E
4.      faktor An yang merupakan kombinasi dari factor o, Q4 dan C
Tes ini paling sesuai dipergunakan untuk asseamen klinis, tetapi dengan pertimbangan yang cermat dapat pula digunakan untk kepentingan lain. Jumlah item 40 buah yang menggambarkan keempat factor di atas.

Clinical Analysis Questionaire (CAQ)
Tes ini merupakan pengembangan penggunaan 16 PF yang disesuaikan untuk kepentingan asesmen klinis. Dari 16 PF aspek linis selanjutnya ditambah lagi dengan 12 faktor lain yang terbentuklah CAQ ini.
Tes ini layak digunakan untuk usia remaja sampai dengan dewasa, dan akan menggambarkan kondisi klinis seseorang.

Sach Sentence Completion Test (SSCT)
Tes yang dikembangkan oleh David Sach ini sebenarnya belum bisa diklasifikasikan sebagai tes tetapi lebih tepat dikatakan sebagai pra-test.
Item-itemnya berjumlah 60, berbentuk kalimat belum selesai dan harus diselesaikan oleh testi, dan dari respon testi akan dapat diketahui adanya hambatan social dari individu dengan “agents of relation” nya yaitu kelompok atau situasi yang memiliki relasi dengan kehidupan individu.

Ada 15 agents of relation, yaitu :
1.      Ibu
2.      Ayah
3.      Kehidupan keluarga
4.      Wanita
5.      Hubungan heteroseksual
6.      Teman dan kenalan
7.      Pimpinan/atasan
8.      Bawahan

9.      Bawahan
10.  Teman sekerja
11.  Ketakutan-ketakutan
12.  Rasa bersalah
13.  Kemampuan diri sendiri
14.  Masa lalu
15.  Masa depan
16.  Cita-cita


Edwards Personal Prefference Schedule (EPPS)
Tes ini terdiri dari 225 item, masing-masing terdiri dari 2 pernyataan (A dan B). Subjek diminta memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan dirinya. bisa disajikan secara individual/klasikal, dengan waktu 40-60 mnt bersifat power test.
Berdasarkan pada teori “need” dari Murray, EPPS memmuat 15 needs sebagai gambaran atau kecenderungan kepribadian manusia. Needs-needs yang diukur : achievement, difference (menyuruh orang lain memutuskan sesuatu bagi dirinya), order (teratur, rapi dan terencana), exhibition (menjdi pusat perhatian), autonomy, affiliation, intraception (memahami perasaan orang lain), succorance (menerima bantuan & afeksi prang lain), dominance, abasement (perasaan bersalah), nurturance (dermawan), ghange, endurance (tekun dalam tugas), heterosexuality (bergaul bebas denngan lawan jenis), aggression.
Untuk dapat memanfaatkan hasil bagi kepentingan seleksi, perlu perlakuan yang ekstra hati-hati, mengingat adanya sifat Ipsative yaitu hasil tes ini pada diri seseorang tidak dapat dibandingkan denngan hasil tes orang lain.























TES MINAT

Pengantar
Pada dasarnya para ahli psikologi sepakat bahwa minat dipandang sebagai aspek non kognitif yang sama sekali berbeda dengan aspek kodnitif. Sebagai konsekuensinya, untuk mengetahui minat seseoranng digunakan instrumen (yang antara lain berupa tes) yang harus tidak mengungkap aspek kognitif – yang biasanya disebut dengan kemampuan.
Sejarah tes minat pada tahun 1921 dengan diterbitkannya tes minat yang pertama, yakni Carnegie Interest Inventory. Dalam skala internasional, tes minat yang paling banyak digunakan sampai saat ini adalah :
1.      Strong Vocational Interest Blank (SVIB) yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1927; sekarang terkenal dengan nama Strong-Campbell Interest Inventory – SCII.
2.      KUDER Preference Survey (KPS) yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1939.
Sampai dengan sekarang kurang lebih terdapat 80 tes minat.

Penerapan Tes Minat
Pada umumnya hasil tes minat digunakan dalam 4 bidang terapan, yaitu konseling karier bagi siswa sekolah lanjutan, konseling pekerjaan bagi karyawan, penjurusan siswa sekolah lanjutan atau mahasiswa, dan perencanaan bacaan dalam pendidikan dan latihan. Perlu dicatat bahwa berdasarkan pengamatan jarang ditemui suatu hasil tes minat digunakan secara eksklusif denngan mengabaikan hasil pengukuran terhadap aspek kognitif dan aspek non kognitif yang lain, yaitu tes intelegensi, tes bakat ataupun tes kepribadian.
Berikut ke-4 bidang penerapan tersebut :

1.      Konseling karier
Hasil tes minat digunakan dalam konseling karier untuk siswa-siswa sekolah, khususnya sekolah umum (SMU) pada tahun-tahun pertama mereka menginjakkan kaki di bangku sekolah. Walaupun demikian hasil tes minat dapat digunakan untuk siswa sekolah kejuruan yang merencanakan untuk segera bekerja setelah lulus. Selain itu konselinng karier dapat digunakan bagi orang-orang putus sekolah lanjutan yang sedanng mencari pekerjaan yang cocok dalam waktu dekat.
Kegunaan hasil tes minat bagi siswa SMA adalah untuk menunjukkan bidang-bidang pekerjaan secara umum dan luas agar mereka segera mempersempit barbagai alternatif bidang pekerjaan dan memfokuskan diri pada beberapa bidang yang jelas.

2.   Konseling Pekerjaan
Hasil tes minat digunakan dalam konseling pekerjaan untuk karyawan-karyawan yang telah bekerja dalam perusahaan atau bidang pekerjaan lain. Dalam hal ini fungsi tes minat adalah untuk mencek konsistensi antara tugas pekerjaan yang telah (terlanjur) dijalani dengan pilihan pekerjaan yang disukai. Persoalan yang kerap muncul adalah ketidakcocokan antara keduanya. Seorang karyawan yang telah bekerja merasa tidak menyukai pekerjaan yang diberikan kepadanya. Tentu saja hal ini akan berakibat buruk pada karier pekerjaan selanjutnya.
Tes minat dapat segera dikenakan kepada karyawan yang mulai menunjukkan perasaan bosan dengan pekerjaannya agar dia dapat dipindahkan ke bidang pekerjaan lain yang lebih cocok baginya. Selain itu tes minat dapat digunakan dalam rangka peningkatan efisiensi perusahaan dan kepuasan kerja dan karyawan.

3.   Perencaan Bacaan Pendidikan
Buku-buku bacaan di sekolah-sekolah (SD, SMP dan SMA) dan perguruan tinggi kadang-kadang tidak disukai oleh para siswa dan mahasiswa karena dipandang tidak relevan atau tidak sesuai dengan bidang minatnya. Dalam sistem pendidikan klasikal, tes minat dapat dimanfaat untuk mengetahui materi bacaan yang tepat bagi siswa agar prestasi mereka juga meningkat. Dengan kata lain tes minat berfungsi untuk memilih jenis-jenis bacaan yang disukai oleh mayoritas siswa.
Dalam skala yang lebih besar hasil tes minat dapat diterapkan untuk perencanaan pemilihan dan penerbitan buku-buku bacaan yang lebih disukai oleh siswa pada suatu daerah / propinsi tertentu. Tentu saja jika hal ini dilakukan dengan cara pemilihan sample yang tepat dan representatif. Perencanaan buku-buku bacaan yang tepat diharapkan mampu mengenalkan bidang-bidang pekerjaan yang tersedia di suatu daerah secara dini terhadap siswa-siswa sekolah khususnya siswa sekolah dasar dan siswa lanjutan.

4.   Penjurusan
Pada prinsipnya penjurusan siswa di sekolah lanjutan merupakan penempatan siswa pada jurusan-jurusan atau program-program studi yang tersedia. Dengan demikian pertama-tama siswa sudah diterima pada suatu jenjang sekolah tertentu-misalnya melalui sistem seleksi dengan menggunakan tes inteligensi dan tes bakat. Barulah kemudian dilakukan pengukuran terhadap minatnya untuk menempatkan setiap siswa pada suatu jurusan atau program studi yang tepat berdasarkan hasil pengukuran tadi.
Macam tes minat yang digunakan tergantung dari keluasaan jurusan atau program studi yang tersedia. Jika jurusan atau program studi terbatasa, misalnya 2-3 saja, maka sebaiknya kita tidak menggunakan tes minat yang mengukur minat seseorang secara luas. Lebih tepat jika kita hanya menggunakan suatu tes minat yang sesuai dengan jurusan atau program studi yang benar-benar ada. Hal ini dipandang efisien, karena siswa tidak perlu mengerjakan semua item pada semua bagian tes, tetapi cukup mengerjakan item dan bagian tes yang relevan. Contoh strategi seperti ini adalah pada penempatan siswa-siswa STM yang memiliki 3 jurusan, yaitu mesin, elektro dan bangunan.

Macam-macam Tes Minat
Terdapat 5 macam tes minat yang dipandang memiliki prospek penggunaan yang cerah, yaitu :


1.      SVIB
Pada SVIB edisi tahun 1966 terdapat 399 item yang mengukur 54 macam pekerjaan untuk pria. Bentuk yang lain digunakan khusus untuk 32 macam pekerjaan untuk wanita. Skor standar digunakan dengan mean 50 dna SD 10 (T score sistem)
Ada macam-macam kriteria, setiap kriteria dikontruksi dari 300 subyek. Reliabilitas genap-gasal dan test-retest jangka pendek bergerak dari 0,80 sampai 0,90. Tes-tes jangka panjang adalah 0,60. prediktor yang tepat adalah kepuasan kerja.
Yang hebat, minat ternyata bertahan sampai 22 tahun. Hal ini diteliti antara lain pada mahasiswa kedokteran, ternyata minat mereka tetap tinggi se bekerja lama sebagai dokter (penelitian ini dilakukan di Stanford University).

2.      SCII
Ini dibuat untuk mengatasi kelemahan SVIB. Bentuk untuk pria yang terpisah dari wanita disatukan dalam SCII. Studi yang impresif dilakukan untuk 437 macam pekerjaan. Ini merupakan penyatuan dari teori Holland yang digunakan sebagai dasar SCII. Terdapat 6 faktor kepribadian yang berkaitan dengan minat :
  1. Realistik
  2. Investigative
  3. Artistic
  4. Social
  5. Enterprising
  6. Konvesional
Lebih jauh pada SCII hal itu diterjemahkan menjadi :
  1. Pekerjaan : 131 item (contoh item : aktris, pengacara, sekretaris)
  2. Subyek sekolah : 36 item (contoh : aljabar, ekonomi)
  3. Aktivitas : 51 item (contoh item : memasak, operasi)
  4. Hiburan : 39 item (contoh item : memancing, tinju)
  5. Tipe orang : 24 item (contoh item : perwira militer, penari)
  6. Preferensi antara 2 aktivitas : 30 item (contoh item : jadi pilot atau petugas biro pekerjaan).
  7. Karakteristik anda : 14 item (contoh item : sabar ketika mengajar).

3.      Tes Kuder
Tes ini menyajikan 10 macam kelompok / bidang pekerjaan yang luas yaitu : lapangan (outdoor), mekanik, kumputasi, ilmiah (scientific), persuasif, artistic, sastra, musik, pelayanan sosial, dan klerk (sekretaris / kantoran).
Selain 10 bidang bidang pekerjaan juga terdapat subskala, yaitu verifikasi, yang bukan merupakan pengukur minat pekerjaan. Verifikasi dimaksudkan oleh penyusunnya sebagai cek kejujuran dan kecermatan dalam memberikan jawaban. Hal ini dapat dipahami mengingat tes ini tidak mengukur kemampuan kognitif (atau sering juga sebagai kemampuan intelektif), tetapi mengukur minat yang merupakan salah satu kemampuan kelemahan yang sukar dihindari. Kelemahan itu adalah kemungkinan subyek untuk memberikan jawaban yang sebenarnya tidak cocok dengan keadaan dirinya, tetapi merupakan jawaban yang dikehendaki oleh orang lain. Orang lain itu dapat saja sebagai sarjana psikologi yang melakukan tes, pihak yang menggunakan jasa psikologi atau masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu fungsi subskala verifikasi dipandang penting untuk mengetahui apakah subyek telah memilih jawaban dengan jujur.













 


















LANJUTAN
HANDOUT



PSIKODIAGNOSTIK

Penyusun:
Rr Amanda Pasca Rini, SPsi, Msi, Psikolog
Dyan Evita Santi, SPsi, MSi




                                                                               




PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
SURABAYA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar