Laman

Kamis, 16 Maret 2017

filsafat ilmu dasar-dasar pengetahuan (makalah)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 Manusia  adalah  satu-satunya  makhluk  yang  mengembangkan pengetahuan  secara  sungguh-sungguh.  Binatang  juga  mempunyai pengetahuan, namun hanya terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Misalnya  seekor  anak  tikus  tahu  mana  kucing  yang  ganas.  Anak  tikus  tentu saja  diajar  induknya  untuk  sampai  pada  pengetahuan  bahwa  kucing  itu berbahaya.  Tetapi  dalam  hal  ini  berbeda  dengan  tujuan  pendidikan  manusia, anak tikus hanya diajari hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya.
Manusia  mengembangkan  pengetahuannya  mengatasi  kebutuhan  kelangsungan  hidupnya.  Manusia  memikirkan  hal-hal  baru,  menjelajah  ufuk  baru, karena manusia bukan sekadar untuk kelangsungan hidup, namun lebih  dari  itu  yaitu  manusia  memanusiakan  diri  dalam  hidupnya. Sukar untuk  dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan  yang muncul dalam kehidupan.  
Kemampuan  menalar  menyebabkan  manusia  mampu  mengembangkan  pengetahuan  yang  merupakan  rahasia-rahasia  kekuasaan- Nya. Untuk mengetahui lebih dalam tentang pengetahuan itu sendiri, di dalam  makalah ini akan dijelaskan secara rinci tentang dasar-dasar pengetahuan. 
B.     Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan  latar  belakang  masalah  di  atas,  maka  dirumuskan  masalah  tentang  apa  saja  dasar-dasar  pengetahuan.  Pembahasan  dalam  makalah  ini  akan  dibatasi  pada  penjelasan  tentang  penalaran,  logika,  sumber  pengetahuan dan kriteria kebenaran. 
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan  penulisan  adalah  untuk  menjelaskan  tentang  dasar-dasar  pengetahuan  yang  meliputi  penalaran,  logika,  sumber  pengetahuan  dan  kriteria kebenaran.
BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
A.    Pengertian dan Dasar-dasar Pengetahuan
Mendefinisikan  pengetahuan  merupakan  kajian  panjang  sehingga  terjadi pergulatan sejarah pemikiran filsafati dalam menemukan pengertian  pengetahuan.  Hal  ini  wajar  karena  “keistimewaan”  filsafat  adalah  perselisihan,  pergumulan  pemikirannya  itu  berlangsung  terus  selamanya.  Suatu  produk  pemikiran  filsafat  selalu  ada  yang  menguatkan,  mengkritik,  melemahkan  bahkan akan ada  yang  merobohkan  pemikiran itu.  Kelakpun  akan  dijumpai  yang  satu  menegaskan  sedang  yang  lain  mengingkari.  Begitulah seterusnya akan selalu berada dalam bingkai dialektika.
Sedangkan  Ilmu  merupakan  pengetahuan  yang  terorganisasi  dan  diperoleh  melalui  proses  keilmuan.  Sedangkan  proses  keilmuan  adalah  cara  memperoleh  pengetahuan  secara  sistematsi  tentang  suatu  sistem.  Perolehan  sistematis  ini  biasanya  atau  pada  umunya  berupa  metode ilmiyah. Dari proses metode ilmiah itu melahirkan “science”. Science atau  tepatnya Ilmu pengetahuan memilki arti spesifik bila digandengkan dengan  ilmu  pengetahuan  yaitu  sebagai  kajian  keilmuan  yang  tersistematis  sehingga menjadi teori ilmiah-obyektif ( dapat dibuktikan secara empiris )  dan  prediktif  (  menduga  hasil  empiris  yang  bisa  diperiksa  sehingga  bisa  jadi hasilnya bersesuaian atau bertentangan dengan realita empiris).
Pengetahuan  dalam  pandangan  Rasionalis  bersumber  dari  “Idea”. Tokoh  awalnya  adalah  Plato  (427-347).  Menurutnya  alam  idea  itu  kekal,  tidak berubah-ubah. Manusia semenjak lahir sudah membawa idea bawaan  sehingga  tinggal  mengingatnya  kembali  untuk  menganalisa  sesuatu  itu.
Istilah  yang  digunakan  Rene  Descartes  (1596-1650)  sebagai  tokoh  rasionalis  dengan  nama “innete  idea”.  Penganut  rasionalis  tidak  percaya dengan  inderawi  karena  inderawi  memiliki  keterbatasan  dan  dapat  berubah-ubah. Sesuatu yang tidak mengalami perubahan itulah yang dapat  dijadikan pedoman sebagai sumber ilmu pengetahuan. Aristatoles dan para  penganut  Empirisme-Realisme menyanggah  yang  disampaikan  oleh  kaum  Rasionalis. Mereka berdalih bahwa ide-ide bawaan itu tidak ada. Hukum- hukum  dan  pemahaman  yang  universal  bukan  hasil  bawaan  tetapi  diperoleh melalui proses panjang pengamatan empiric manusia. Aristoteles  berkesimpulan  bahwa  ide-ide  dan  hukum  yang  universal  itu  muncul  dirumuskan  akal  melalui  proses  pengamatan  dan  pengalaman  inderawi.  Pengetahuan  yang  tidak  bisa  diukur  dan  dibuktikan  dengan  empiric-realitas-material merupakan pengetahuan yang hayali, tahayul dan  bohong  (mitos). 
Aliran  empirisme  menyatakan  bahwa  pengetahuan  itu  diperoleh melalui pengalaman-pengalaman yang konkrit. Sedangkan aliran  rasionalis  berpendapat  bahwa  pengetahuan  manusia  didapatkan  melalui  penalaran  rasional.  Kedua  pendekatan  ini  merupakan  cikal  bakal  lahirnya  positivisme modern dalam kajian keilmuan.
B.     Dasar-dasar Pengetahuan
1.      Penalaran
Kemampuan  menalar  menyebabkan  manusia  mampu  mengembangkan  pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaan – Nya. Secara  simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa, dan  setelah  itu  manusia  harus  hidup  berbekal  pengetahuannya  itu.  Dia  mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana  yang  buruk,  serta  mana  yang  indah  dan  mana  yang  jelek.  Secara  terus  menerus dia selalu hidup dalam pilihan.  Manusia  adalah  satu-satunya  makhluk  yang  mengembangkan  pengetahuan  ini  sungguh-sungguh.  Binatang  juga  mempunyai  pengetahuan,  namun  pengetahuan  ini  terbatas  hanya  untuk  kelangsungan  hidupnya.  Manusia  mengembangkan  pengetahuannya  mengatasi  kebutuhan-kebutuhan  kelangsungan  hidup  ini.  Dan  memikirkan  hal-hal  baru,  menjelajah  ufuk  baru,  karena  dia  hidup  bukan  sekedar  untuk  kelangsungan  hidupnya,  namun  lebih  dari  pada  itu.  Manusia  mengembangkan  kebudayaan;  memberi  makna  bagi  kehidupan;  manusia  „memanusiakan”  diri  dalam  dalam  hidupnya.  Intinya  adalah  manusia  di  dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar  kelangsungan  hidupnya.  Inilah  yang  membuat  manusia  mengembangkan  pengetahuannya  dan  pengetahuan  ini  mendorong  manusia  menjadi  makhluk yang bersifat khas. Pengetahuan  ini  mampu  dikembangkan  manusia  disebabkan  oleh  dua  hal  utama:
a)      Bahasa
Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan  informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut.
b)      Kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.  Dua  kelebihan  inilah  yang  memungkinkan  manusia  mengembangkan  pengetahuannya  yakni  bahasa  yang  bersifat  komunikatif  dan  pikiran  yang  mampu menalar.
Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu  kesimpulan  yang  berupa  pengetahuan.  Manusia  pada  hakikatnya  merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap  dan  tindakan  yang  bersumber  pada  pengetahuan  yang  didapatkan  lewat  kegiatan  merasa  atau  berpikir.  Penalaran menghasilkan  pengetahuan  yang  dikaitkan  dengan  kegiatan  merasa  atau  berpikir.  Penalaran  menghasilkan  pengetahuan  yang  dikaitkan  dengan  kegiatan  berpikir  dan  bukan  dengan  perasaan.  Berpikir  merupakan  suatu  kegiatan  untuk  menemukan  pengetahuan  yang  benar.  Apa  yang  disebut  benar  bagi  tiap  orang  adalah  tidak  sama  oleh  sebab  itu  kegiatan  proses  berpikir  untuk  menghasilkan  pengetahuan  yang  benar  itupun  berbeda-beda  dapat  dikatakan  bahwa  tiap  jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan  kriteria kebenaran ini merupakan landasan bagi proses kebenaran tersebut.
Penalaran  merupakan  suatu  proses  penemuan  kebenaran  di  mana  tiap-tiap  jenis  penalaran  mempunyai  kriteria  kebenaran  masing- masing.  Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri- ciri tertentu.  Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas  dapat disebut logika, dan tiap penalaran mempunyai logika tersendiri atau  dapat  juga  disimpulkan  bahwa  kegiatan  penalaran  merupakan  suatu  kegiatan  berpikir  logis,  dimana  berpikir  logis  di  sini  harus  diartikan  sebagai  kegiatan  berpikir  menurut  suatu  pola  tertentu  atau  logika  tertentu. Ciri  yang  kedua  dari  penalaran  adalah  sifat  analitik  dari  proses  berpikirnya.  Penalaran  merupakan  suatu  kegiatan  berpikir  yang  menyandarkan  diri  kepada  suatu  analisis  dan  kerangka  berpikir  yang  digunakan  untuk  analisis  tersebut  adalah  logika  penalaran  yang  bersangkutan.  Artinya penalaran ilmiah merupakan kegiatan analisis  yang  mempergunakan logika ilmiah, dan demikian juga penalaran lainnya  yang  mempergunakan  logikanya  tersendiri.  Sifat  analitik  ini  merupakan  konsekuensi dari suatu pola berpikir tertentu. 
2.      Logika
Penalaran  merupakan  suatu  proses  berpikir  yang  membuahkan  pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai  dasar  kebenaran  maka  proses  berpikir  itu  harus  dilakukan  cara  tertentu.  Suatu  penarikan  kesimpulan  baru  dianggap  sahih  (valid)  kalau  proses  penarikan  kesimpulan  tersebut  dilakukan  menurut  cara.  Cara  penarikan  kesimpulan  ini  disebut  logika,  di  mana  logika  secara  luas  dapat  didefinisikan  sebagai “pengkajian  untuk  berpikir  secara  sahih.
Terdapat  bermacam-macam  cara  penarikan  kesimpulan,  namun  untuk  sesuai dengan dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran  maka  hanya  difokuskan  kepada  dua  jenis  penarikan  kesimpulan,  yakni  logika  induktif  dan  logika  deduktif.  Logika  induktif  erat  hubungannya dengan  penarikan  kesimpulan  dari  kasus-kasus  individual  nyata  menjadi  kesimpulan  bersifat  umum.  Sedangkan  logika  deduktif,  menarik  kesimpulan  dari  hal  yang  bersifat  umum  menjadi  kasus  yang  bersifat individual (khusus).
a.              Induksi
Induksi  merupakan  cara  berpikir  di  mana  ditarik  dari  suatau  kesimpulan  yang  bersifat  umum  dari  berbagai  kasus  yang  bersifat  individu.  Penalaran  secara  induktif  dimulai  dengan  mengemukakan  pernyataan-pernyataan  yang  bersifat  khas  dan  dan  terbatas  dalam  menyusun argumentasi yang diakhiri dengan   pernyataan  yang  bersifat  umum.  Kesimpulan  yang  bersifat  umum  ini  penting artinya karena mempunyai dua keuntungan, yaitu :
-          Bersifat ekonomis.
-          Dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya.

b.              Deduksi
Penalaran  deduktif  adalah  kegiatan  berpikir  yang  sebaliknya  dari  penalaran  induktif. Deduksi  adalah  cara  berpikir  dimana  dari  pernyataan  yang  bersifat  umum  ditarik  kesimpulan  yang  bersifat  khusus.  Penarikan  kesimpulan  secara  deduktif  biasanya  menggunakan  pola  berpikir  yang  dinamakan  silogismus.  Silogismus  disusun  dari  dua  buah  pertanyaan  dan  satu  kesimpulan.  Pernyataan  yang  mendukung  silogismus  ini  disebut  premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis  minor.  Kesimpulan  merupakan  pengetahuan  yang  didapat  dari  penalaran  deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.  Jadi  ketepatan  penarikan  kesimpulan  tergantung  pada  tiga  hal  yakni  kebenaran  premis  mayor,  kebenaran  premis  minor,  dan  keabsahan  penarikan  kesimpulan.  Sekiranya  salah  satu  dari  ketiga  unsur  tersebut  persyaratannya  tidak  dipenuhi  maka  kesimpulan  yang  akan  ditariknya  akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.

Perasaan  merupakan  suatu  penarikan  kesimpulan  yang  tidak  berdasarkan penalaran. Kegiatan berpikir juga ada yang tidak berdasarkan  penalaran,  yaitu  intuisi.  Intuisi  adalah  suatu  kegiatan  berpikir  yang  nonanalitik  yang  tidak  mendasarkan  diri  kepada  suatu  pola  berpikir  tertentu.  Masih  terdapat  bentuk  lain  dalam  usaha  manusia  untuk  mendapatkan  pengetahuan.  Ditinjau  dari  hakikat  usahanya  dalam  menemukan  kebenaran, dapat dibedakan 2 (dua)  jenis pengetahuan, yaitu:  
                                            I.            Penalaran  maupun  kegiatan  lainnya  seperti  perasaan  dan  intuisi  didapat  dari usaha yang aktif dari manusia.  
                                         II.            Wahyu  merupakan  pengetahuan  yang  ditawarkan  atau  diberikan,  umpamanya wahyu  yang diberikan Allah SWT lewat malaikat dan nabi- nabi-Nya. Manusia dalam menemukan ini bersifat pasif sebagai penerima  pemberitahuan  tersebut,  yang  kemudian  dipercaya  atau  tidak,  berdasarkan masing-masing keyakinannya.
Pengetahuan  juga  dapat  ditinjau  dari  sumber  yang  memberikan pengetahuan  tersebut.  Misalnya  wahyu  dan  intuisi,  secara  implisit  kita mengakui bahwa wahyu berasal dari Tuhan dan intuisi adalah sumber pengetahuan.  Dengan  wahyu  didapat  pengetahuan  dari  keyakinan (kepercayaan)  bahwa  yang  diwahyukan  itu  benar  begitu  pula  dengan  intuisi,  meskipun  kegiatan  berpikir  intuitif  tidak  punya  logika  dan  pola pikir tertentu.  Penalaran  hanya  merupakan  cara  berpikir  tertentu.  Untuk  melakukan  analisis  diperlukan  materi  pengetahuan  yang  berasal  dari  suatu  sumber  kebenaran.  Pengetahuan  yang  dipergunakan  dalam  penalaran  pada  dasarnya bersumber pada rasio (rasionalisme) dan fakta (empirisme).
Disamping  itu,  penarikan  kesimpulan  secara  deduktif  biasanya  menggunakan  pola  berpikir  silogismus.  Silogismus  disusun  dari  dua  buah  pernyataan (premis mayor dan premis minor) dan sebuah kesimpulan.   Contoh:  Semua makhluk mempunyai mata    (premis mayor)  Si Polan adalah seorang makhluk hidup  (premis minor)    Jadi si Polan mempunyai mata    (kesimpulan)  Penarikan  kesimpulan  deduktif    tergantung  atas  tiga  hal  yakni.  kebenaran  premis  mayor,  kebenaran  premis  minor,  dan  keabsahan  pengambilan kesimpulan.

3.      Sumber Pengetahuan
Baik  logika  deduktif  maupun  logika  induktif,  dalam  proses  penalarannya menggunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang  dianggap  benar.  Untuk  mendapatkan  pengetahuan  yang  benar  dilakukan  dua  cara  yaitu:  pengetahuan  itu  harus  berdasarkan  kepada  rasio  (rasionalisme/ idealisme)  dan berdasarkan pengalaman (empirisme). 
Kaum  rasionalis  menggunakan  metode  deduktif  dalam  menyusun  pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari  ide  yang  menurut  anggapannya  jelas  dan  dapat  diterima.  Ide  ini  menurut  mereka  bukanlah  ciptaan  pikiran manusia.  Secara  singkat  dapat  dikatakan  bahwa  ide  kaum  rasionalis  bersifat  apriori  dan  prapengalaman  yang  didapatkan  manusia  melalui    penalaran  rasional.  Kelemahan  pemikiran  rasional  cenderung  bersifat  solipsistik  (benar  dalam  kerangka  pemikiran  tertentu) dan subjektif.
Sedangkan kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia  bukan  didapatkan  melalui  penalaran  rasional  yang  abstak  tapi  melalui  pengalaman  yang  komplit.  Kelemahan  pengetahuan  secara  empiris  ini adalah  (1)  pengetahuan  yang  dikumpulkan  cenderung  berupa  fakta,  fakta  tersebut  belum  tentu  bersifat  konsisten  dan  terdapat  hal-hal  yang  bersifat  kontradiktif,  (2)  hakikat  pengalaman  yang  merupakan  cara  dalam  menemukan  pengetahuan  dan  panca  indera  sebagai  alat  penangkapnya.  Panca  indera  manusia  sangat  terbatas  kemampuannya  sehingga  kaum  empiris tidak bisa memberikan jawaban mengenai hakikat pengalaman itu  sendiri.
Selain  rasionalisme  dan  empirisme  juga  terdapat  cara  untuk  mendapatkan pengetahuan yaitu:
1.      Intuisi
Merupakan  pengetahuan  yang  didapatkan  tanpa  melalui  proses  penalaran    tetentu.  Intuisi  besifat  personal  dan  tidak  bisa  diramalkan.  Selain  itu,  dalam  menyusun  pengetahuan  secara  teratur  intuisi  tidak  bisa  diandalkan.  Pengetahuan  intuisi  dapat  dipergunakan  sebagai  hipotesis.  Untuk menemukan kebenaran, intuitif dapat bekerja sama dengan analitik.
Contohnya: seseorang yang sedang terpusat pikirannya pada suatu masalah  tiba-tiba  saja  mendapat  jawaban  atas  permasalahan  tersebut.tanpa  proses  berpikir yang berliku-liku.
2.      Wahyu
Merupakan pengetahuan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan  ini  disalurkan  melalui  nabi-nabi  yang  diutus  sepanjang  zaman.  Agama  dimulai  dengan  rasa  percaya,  kepercayaan  itu  bisa  meningkat  atau  menurun.  Berbeda  dengan  ilmu,  ilmu  dimulai  dari  rasa  tidak  percaya,  setelah  melakukan  proses  pengkajian  ilmiah,  kita  bisa  diyakinkan  atau  tetap pada pendirian.  

4.      Kriteria Kebenaran
Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap  apa  yang  dianggapnya  benar.  Berdasarkan  teori  koherensi,  suatu  pernyataan  dianggap  benar  bila  pernyataan  itu  bersifat  koheren  atau  konsisten  dengan  pernyataan-pernyataan  sebelumnya  yang  dianggap  benar.  Misalnya  bila  kita  menganggap  bahwa  “semua  manusia  pasti  akan  mati”  adalah  suatu  pernyaatan  yang  benar,  maka  pernyataan  bahwa  “si  Polan  seorang  manusia  dan  si  Polan  pasti  akan  mati”  adalah  benar  pula,  sebab  pernyataan  kedua  adalah  konsisten  dengan  pernyataan  yang  pertama. Dengan kata lain, penalaran koherensi bersifat logika deduktif.
Paham  lain  adalah  kebenaran  yang  berdasarkan  teori  korespondensi,  dimana  eksponen  utamanya  adalah  Bertrand  Russell  (1872-1970).  Bagi  penganut  teori  korespondensi  maka  suatu  pernyataan  adalah  benar  jika  materi  pengetahuan  yang  dikandung  pernyataan  itu berkorespondensi  (berhubungan)  dengan  obyek  yang  dituju  oleh  pernyataan  tersebut.  Maksudnya  jika  seseorang  mengatakan  bahwa  “Ibu  Kota  Republik  Indonesia  adalah  Jakarta”  maka  pernyatan  itu  adalah  benar  sebab  penyataan  itu  berhubungan  dengan  obyek  yang  bersifat  faktual  yakni  Jakarta  yng  memang  menjadi  Ibu  Kota  Republik  Indonesia.   Sekiranya  orang  lain  menyatakan  bahwa  “Ibu Kota  Republik Indonesia adalah Bandung” maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab  tidak terdapat obyek yang dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka  secara  faktual  “Ibu  Kota  Republik  Indonesia  adalah  bukan  Bandung  melainkan Jakarta”.  Kedua  teori  kebenaran  ini  yakni  teori  koherensi  dan  teori   korespondensi  kedua-duanya  dipergunakan  dalam  cara  berpikir  ilmiah.
Penalaran teoretis yang berdasarkan logika dedukitif jelas mempergunakan  teori  koherensi  ini.  Sedangkan  yang  bersifat  pembuktian  secara  empiris  dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan  tertentu  mempergunakan  teori  kebenaran  yang  lain  yang  disebut  teori  kebenaran pragmatis.
Teori  pragmatis  dicetuskan  oleh  Charles  S.  Piere  (1839-1914)  dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to  Make  Our  Ideas  Clear”.  Teori ini  kemudian  dikembangkan  oleh  beberapa  ahli  filsafat  yang  kebanyakan  adalah  berkebangsaan  Amerika  yang  menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. 
Bagi  seorang  pragmatis  maka  kebenaran  suatu  pernyataan  diukur  dengan  kriteria  apakah  pernyataan  tersebut  bersifat  fungsional  dalam  kehidupan praktis. Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan  atau  konsekuensi  dari  pernyataan  itu  mempunyai  kegunaan  praktis  dalam  kehidupan  manusia.  Kaum  pragmatis  berpaling  kepada  metode  ilmiah  sebagai  metode  untuk  mencari  pengetahuan  tentang  alam  ini  yang  dianggapnya  fungsional  dan  berguna  dalam  menafsirkan  gejala-gejala  alamiah.  Demikian  juga  kaum  pragmatis  percaya  kepada  agama  sebab  agama  bersifat  funsionil  dalam  memberikan  pegangan  moral  dan  percaya kepada demokrasi sebab demokrasi bersifat fungsional dalam menemukan  konsesus masyarakat. 
Kriteria pragmatis ini juga dipergunakan oleh para ilmuwan dalam  menentukan  kebenaran  ilmiah  dilihat  dalam  perspektif  waktu.  Secara  historis  pernyataaan  ilmiah  yang  sekarang  dianggap  benar  suatu  waktu  mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan pada masalah ini maka ilmuwan  bersifat  pragmatis.  Selama  pernyataan  itu  fungsional  dan  mempunyai  kegunaan  maka  pernyataan  itu  dianggap  benar,  sekiranya  pernyataan  itu  tidak  lagi  bersifat  demikian  disebabkan  oleh  perkembangan  ilmu  itu sendiri  yang melahirkan  pernyataan  baru,  maka  pernyataan  itu ditinggalkan.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Penalaran  merupakan  suatu  proses  berpikir  dalam  menarik  sesuatu  kesimpulan  yang  berupa  pengetahuan.  Penalaran  menghasilkan   pengetahuan  yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan  dengan perasaan melainkan mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan  kebenaran.
2.      Agar  pengetahuan  yang  dihasilkan  mempunyai  dasar  kebenaran,  maka  proses  berpikir  harus  didasarkan  pada  logika.  Untuk  mendapatkan  pengetahuan yang benar dilakukan dua cara yaitu: pengetahuan itu harus  berdasarkan  kepada  rasio  (rasionalisme/  idealisme)    dan  berdasarkan  pengalaman  (empirisme).  Selain  itu,  pengetahuan  juga  bisa  didapatkan  dari sumber lain yaitu intuisi dan wahyu. 
3.      Ada  tiga  paham  tentang  cara  memandang  kebenaran  yaitu  teori  koherensi, teori korespondensi dan teori pragmatis.

B.     Saran
Sebagai  kaum  intelektual  yang  berupaya  untuk  berpartisipasi  dalam   mengambangkan  pengetahuan,  kita  hendaknya  memahami  dasar-dasar  pengetahuan dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA

Suria Sumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka  Sinar Harapan.

Noor  Syam,  Mohammad.  1986.  Filsafat  kependidikan  dan  Dasar  Filsafat  Kepandidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar