Laman

Rabu, 04 Maret 2015

SEJARAH DAN PENDEKATAN PSIKOPATOLOGI






SEJARAH DAN PENDEKATAN PSIKOPATOLOGI
Selama rentang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk dalam beberapa hal oleh pandangan dunia (worldview) yang berlaku pada saat itu. Juga sepanjang sejarah, keyakinan akan kekuatan supranatural, setan, dan roh jahat telah sangat mendominasi. Perilaku abnormal seringkali dianggap sebagai tanda kerasukan (possession). Pada masa kini yang lebih modern, pandangan dunia secara umumnya meski tak berarti universal, telah berganti pada keyakinan terhadap ilmu dan nalar (reason). Dalam budaya psikologi, perilaku abnormal telah dipandang sebagai produk dari faktor fisik dan psikososial, bukan akibat dari kerasukan setan.
  1. A.      Model Demonologi
Pada zaman prasejarah, para ahli arkeologi telah menemukan kerangka manusia dari zaman batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu asumsi yang muncul terhadap lubang tersebut adalah bahwa nenek moyang kita di zaman prasejarah percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serangan dari roh-roh jahat terhadap mereka. Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination yaitu dengan menciptakan sebuah jalur melalui tengkorak sebagai jalan keluar bagi roh marah tersebut. Pertumbuhan tulang yang baru mendeskripsikan bahwa sejumlah orang mampu bertahan hidup dari siksaan tersebut.
Mengaitkan perilaku abnormal dan penyebab supranatural ataupun hal-hal gaib disebut sebagai model demonologi. Orang zaman purba mengaitkan bencana alam dengan kehendak Tuhan dan arwah. Bangsa Babylonia purba juga percaya bahwa pergerakan bintang dan planet ditentukan oleh perjalanan dan konflik dari para dewa. Disisi lainnya, bangsa Yunani kuno percaya bahwa dewa-dewa mereka memperlakukan manusia sebagai mainan. Saat para dewa itu marah, mereka dapat menciptakan bencana alam untuk mendatangkan malapetaka pada orang-orang yang kurang ajar atau angkuh, bahkan menyelimuti pikiran mereka dengan ketidakwarasan. Pada zaman Yunani kuno, orang yang berperilaku secara abnormal sering dikirim kekuil untuk dipersembahkan pada Aesculapius, yaitu dewa penyembuhan. Para pendeta percaya bahwa Aesculapius akan mengunjungi orang-orang yang menderita ketika mereka tertidur didalam kuil dan memberikan saran penyembuhan melalui mimpi. Istirahat, diet nutrisi, dan olahraga juga dipercaya dapat membantu penanganan. Ketidaksembuhan juga ditentukan oleh kuil dengan membuat orang tersebut tidak sensitif.
  1. Asal Mula Model Medis : Dalam “Cairan Tubuh yang Memicu Penyakit”
Hipocrates (460-377 SM) adalah seorang dokter terkenal pada zaman keemasan Yunani yang menantang keyakinan konservatif pada masanya dengan menyatakan bahwa penyakit pada tubuh dan jiwa merupakan hasil dari penyebab yang naturalis, bukan karena penguasaan oleh kekuatan supranatural. Beliau yakin bahwa kesehatan tubuh dan jiwa tergantung pada keseimbangan cairan tubuh (humors), atau cairan vital, di dalam tubuh : lendir, cairan empedu hitam, darah dan cairan empedu kuning. Orang yang tidak bertenaga atau lambat, diasumsikannya memiliki kelebihan lendir (phlegm), yang kemudian menjadi asal kata plegmatis (phlegmatic). Berlebihnya cairan empedu hitam diyakini menyebabkan depresi, atau melankolia (melancholia). Serta terlalu banyak darah dapat menimbulkan disposisi sanguinis (sanguine) : ceria, percaya diri, dan optimis. Kelebihan cairan empedu kuning membuat orang-orang menjadi murung, dan koleris (choleric), yaitu mudah marah. Meskipun kita tidak lagi menganut teori Hippocrates tentang cairan ketubuhan, teorinya memiliki riwayat historis yang penting karena penyimpangannya dari konsep demonologi kuno. Teori ini juga mengawali perkembangan model medis yang modern, yaitu pandangan bahwa perilaku abnormal merupakan hasil dari proses biologis yang melatar belakanginya. Hipocrates telah mulai mengklasifikasikan pola-pola perilaku abnormal, dengan menggunakan tiga kelas utama yang memiliki sejumlah kesamaan,  dimana melankolia untuk menandai depresi yang berlebihan, manaik untuk mengacu pada kegembiraan yang berlebihan, dan ferenitis utuk menandai bentuk perilaku aneh yang mungkin pada saat ini mencirikan skizofrenia.
  1. Zaman Pertengahan
Keyakinan terhadap penyebab supranatural, terutama doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat, meningkat pengaruhnya ,dan akhirnya mendominasi pemikiran pada zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Keyakinan ini dibubuhkan kedalam ajaran gereja katolik Roma, yang menjadi kekuatan pemersatu di Eropa Barat, setelah runtuhnya kekaisaran Roma tentunya. Sebagai pilihan dalam menanganani perilaku abnormal adalah dengan pengusiran roh jahat (exorcism). Para pengusir roh jahat dipekerjakan untuk meyakinkan roh jahat bahwa tubuh korban yang mereka tuju pada dasarnya tidak dapat dihuni. Metode-metodenya meliputi berdoa, mengayun-ayunkan tanda salib kehadapan korban, memukul dan mencambuk, bahkan membuat korban menjadi lapar. Apabila korban masih menunjukkan perilaku yang tidak sepatutnya, terdapat pengobatan yang bahkan lebih kuat, seperti penyiksaan, dengan peralatan untuk menyiksa. Tampak jelas bahwa penerima “pengobatan” tersebut akan termotivasi untuk menyesuaikan perilaku mereka sebaik mungkin sesuai dengan harapan sosial.
  1. Ilmu Sihir
Pada akhir abad ke-15 sampai akhir abad ke-17, yang merupakan masa dimana terjadi penganiayaan-penganiayaan terhadap orang-orang yang dituduh memiliki ilmu sihir.  Lalu muncul tes-tes diagnostik yang kreatif untuk mendeteksi penguasaan oleh roh jahat dan ilmu sihir. Dalam kasus tes terapung di air, orang yang tidak bersalah ditenggelamkan sebagaai cara untuk meyakinkan bahwa mereka tidak dirasuki oleh iblis. Tes terapung di air didasarkan pada prinsip bahwa logam murni tetap berada didasar selama peleburan, sedangkan yang tiruan muncul kepermukaan. Tertuduh yang dapat mempertahankan kepala mereka di atas permukaan air dianggap bersekutu dengan iblis. Oleh karenanya mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Percobaan ini merupakan sumber  frase yang berbunyi “terkutuklah jika engkau melakukan dan terkutuklah jika tidak” (damn if you do and damn if you don’t). Akademisi modern pernah meyakini bahwa orang-orang yang disebut sebagai penyihir pada abad pertengahan dan zaman renaisensse sebenarnya merupakan orang-orang yang mengalami gangguan secara mental. Mereka diyakini dianiaya karena perilaku abnormal mereka dianggap sebagai bukti bahwa mereka bersekutu dengan iblis. Adalah benar bahwa banyak dari penyihir yang diduga mengaku telah melakukan perilaku yang tidak mungkin, seperti terbang atau melakukan hubungan seksual dengan iblis. Dilain sisi, pengakuan semacam itu mungkin mengacu pada gangguan dalam pikiran dan persepsi yang konsisten dengan diagnosis modern tentang gangguan psikologis, seperti skizofrenia.
Meskipun setan diyakini memainkan peranan baik dalam perilaku abnormal, maupun ilmu sihir, tapi terdapat perbedaan antara keduanya. Korban dari kerasukan oleh roh jahat kemungkinan dipersepsikan dirundung hal itu sebagai balasan atas pelanggaran yang telah dilakukan, tapi beberapa orang yang menunjukkan perilaku abnormal dianggap merupakan korban yang tidak berdosa dari penguasaan setan tersebut. Namun, penyihir diyakini secara sukarela memasuki persekutuan dengan iblis dan meninggalkan Tuhan. Penyihir biasanya dipandang lebih pantas untuk mengalami penyiksaan, dan eksekusi hukuman mati.
  1. Rumah Sakit Jiwa
Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, rumah sakit jiwa , atau penampungan untuk orang gila, mulai menjamur di seluruh Eropa. Banyak yang sebelumnya merupakan leprosariun (tempat perawatan untuk penderita lepra), yang tidak lagi dibutuhkan karena berkurangnya penyakit lepra pada akhir abad pertengahan. Rumah sakit jiwa acapkali memberikan perlindungan bagi para pengemis sebagaimana orang yang mengalami gangguan, dan kondisi di tempat itu biasanya mengerikan. Para penghuninya acapkali dirantai di tepi tempat tidur mereka dan dibiarkan terbaring di tengah kotoran mereka atau berkeluyuran tanpa ada yang membantunya.
  1. Gerakan Reformasi dan Terapi Mental
Sejak tahun 1784 hingga 1802, Pusin, seorang awam, ditempatkan sebagai penguasa suatu bangsal untuk orang-orang yang dianggap gila tidak tersembuhkan pada La BicĂȘtre, sebuah rumah sakit mental besar di kota Paris. Orang-orang yang tidak beruntung tersebut telah dianggap terlalu berbahaya dan tidak dapat diramalkan perilakunya jika dibiarkan tidak dirantai. Namun, Pusin meyakini apabila mereka dirawat dengan kebaikan hati, maka mereka tidak perlu dirantai. Sebagaimana yang diperkirakannya, kebanyakan dari mereka yang dikurung menjadi lebih mudah ditangani dan tenang saat rantai mereka dilepaskan. Mereka dapat berjalan di halaman rumah saki dan menghirup udara segar. Pinel (1746-1826) melanjutkan penanganan manusiawi yang telah dimulai oleh Pussin. Ia menghentikan prektek-prektek yang kasar, seperti melukai dan mensucikan penderita, dan memindahkan pasien dari kamar bawah tanah yang gelap kekamar yang memiliki ventilasi yang baik dan terkena sinar matahari. Pinel juga menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara dengan para penghuni, dengan keyakinan bahwa dengan memberikan pengertian dan kepedulian akan membantu penyembuhan mereka untuk kembali berfungsi secara normal. Filosofis penanganan yang muncul dari upaya ini disebut terapi moral. Terapi ini didasarkan pada keyakinan bahwa memberikan penanganan yang manusiawi dalam lingkungan yang santai dan layak dapat mengembalikan fungsi individu menjadi normal kembali.
  1. Suatu Langkah Mundur
Pada paruh terakhir abad ke-19, keyakinan bahwa perilaku abnormal dapat berhasil ditangani atau disembuhkan dengan terapi moral menjadi kurang disukai (USDHHS, 1999a). Rumah sakit mental menjadi tempat yang menakutkan. Kondisi rumah sakit yang menyedihkan tetap menjadi hal yang umum hingga pertengahan abad ke-20. Walaupun sejumlah rumah sakit negara yang bagus menyediakan perawatan yang layak dan manusiawi, banyak yang digambarkan tidak lebih sebagai sarang macan bagi manusia. Para penghuni sering dijejalkan di dalam bangsal yang bahkan tidak memiliki sanitasi yang baik. Banyak pasien menerima sedikit perawatan profesional dan diperlakukan tidak manusiawi oleh staf-staf yang kurang terlatih dan kurang mendapatkan pengawasan.


Selama rentang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk dalam beberapa hal oleh pandangan dunia (worldview) yang berlaku pada saat itu. Juga sepanjang sejarah, keyakinan akan kekuatan supranatural, setan, dan roh jahat telah sangat mendominasi. Perilaku abnormal seringkali dianggap sebagai tanda kerasukan (possession). Pada masa kini yang lebih modern, pandangan dunia secara umumnya meski tak berarti universal, telah berganti pada keyakinan terhadap ilmu dan nalar (reason). Dalam budaya psikologi, perilaku abnormal telah dipandang sebagai produk dari faktor fisik dan psikososial, bukan akibat dari kerasukan setan.
  1. A.      Model Demonologi
Pada zaman prasejarah, para ahli arkeologi telah menemukan kerangka manusia dari zaman batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu asumsi yang muncul terhadap lubang tersebut adalah bahwa nenek moyang kita di zaman prasejarah percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serangan dari roh-roh jahat terhadap mereka. Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination yaitu dengan menciptakan sebuah jalur melalui tengkorak sebagai jalan keluar bagi roh marah tersebut. Pertumbuhan tulang yang baru mendeskripsikan bahwa sejumlah orang mampu bertahan hidup dari siksaan tersebut.
Mengaitkan perilaku abnormal dan penyebab supranatural ataupun hal-hal gaib disebut sebagai model demonologi. Orang zaman purba mengaitkan bencana alam dengan kehendak Tuhan dan arwah. Bangsa Babylonia purba juga percaya bahwa pergerakan bintang dan planet ditentukan oleh perjalanan dan konflik dari para dewa. Disisi lainnya, bangsa Yunani kuno percaya bahwa dewa-dewa mereka memperlakukan manusia sebagai mainan. Saat para dewa itu marah, mereka dapat menciptakan bencana alam untuk mendatangkan malapetaka pada orang-orang yang kurang ajar atau angkuh, bahkan menyelimuti pikiran mereka dengan ketidakwarasan. Pada zaman Yunani kuno, orang yang berperilaku secara abnormal sering dikirim kekuil untuk dipersembahkan pada Aesculapius, yaitu dewa penyembuhan. Para pendeta percaya bahwa Aesculapius akan mengunjungi orang-orang yang menderita ketika mereka tertidur didalam kuil dan memberikan saran penyembuhan melalui mimpi. Istirahat, diet nutrisi, dan olahraga juga dipercaya dapat membantu penanganan. Ketidaksembuhan juga ditentukan oleh kuil dengan membuat orang tersebut tidak sensitif.
  1. Asal Mula Model Medis : Dalam “Cairan Tubuh yang Memicu Penyakit”
Hipocrates (460-377 SM) adalah seorang dokter terkenal pada zaman keemasan Yunani yang menantang keyakinan konservatif pada masanya dengan menyatakan bahwa penyakit pada tubuh dan jiwa merupakan hasil dari penyebab yang naturalis, bukan karena penguasaan oleh kekuatan supranatural. Beliau yakin bahwa kesehatan tubuh dan jiwa tergantung pada keseimbangan cairan tubuh (humors), atau cairan vital, di dalam tubuh : lendir, cairan empedu hitam, darah dan cairan empedu kuning. Orang yang tidak bertenaga atau lambat, diasumsikannya memiliki kelebihan lendir (phlegm), yang kemudian menjadi asal kata plegmatis (phlegmatic). Berlebihnya cairan empedu hitam diyakini menyebabkan depresi, atau melankolia (melancholia). Serta terlalu banyak darah dapat menimbulkan disposisi sanguinis (sanguine) : ceria, percaya diri, dan optimis. Kelebihan cairan empedu kuning membuat orang-orang menjadi murung, dan koleris (choleric), yaitu mudah marah. Meskipun kita tidak lagi menganut teori Hippocrates tentang cairan ketubuhan, teorinya memiliki riwayat historis yang penting karena penyimpangannya dari konsep demonologi kuno. Teori ini juga mengawali perkembangan model medis yang modern, yaitu pandangan bahwa perilaku abnormal merupakan hasil dari proses biologis yang melatar belakanginya. Hipocrates telah mulai mengklasifikasikan pola-pola perilaku abnormal, dengan menggunakan tiga kelas utama yang memiliki sejumlah kesamaan,  dimana melankolia untuk menandai depresi yang berlebihan, manaik untuk mengacu pada kegembiraan yang berlebihan, dan ferenitis utuk menandai bentuk perilaku aneh yang mungkin pada saat ini mencirikan skizofrenia.
  1. Zaman Pertengahan
Keyakinan terhadap penyebab supranatural, terutama doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat, meningkat pengaruhnya ,dan akhirnya mendominasi pemikiran pada zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Keyakinan ini dibubuhkan kedalam ajaran gereja katolik Roma, yang menjadi kekuatan pemersatu di Eropa Barat, setelah runtuhnya kekaisaran Roma tentunya. Sebagai pilihan dalam menanganani perilaku abnormal adalah dengan pengusiran roh jahat (exorcism). Para pengusir roh jahat dipekerjakan untuk meyakinkan roh jahat bahwa tubuh korban yang mereka tuju pada dasarnya tidak dapat dihuni. Metode-metodenya meliputi berdoa, mengayun-ayunkan tanda salib kehadapan korban, memukul dan mencambuk, bahkan membuat korban menjadi lapar. Apabila korban masih menunjukkan perilaku yang tidak sepatutnya, terdapat pengobatan yang bahkan lebih kuat, seperti penyiksaan, dengan peralatan untuk menyiksa. Tampak jelas bahwa penerima “pengobatan” tersebut akan termotivasi untuk menyesuaikan perilaku mereka sebaik mungkin sesuai dengan harapan sosial.
  1. Ilmu Sihir
Pada akhir abad ke-15 sampai akhir abad ke-17, yang merupakan masa dimana terjadi penganiayaan-penganiayaan terhadap orang-orang yang dituduh memiliki ilmu sihir.  Lalu muncul tes-tes diagnostik yang kreatif untuk mendeteksi penguasaan oleh roh jahat dan ilmu sihir. Dalam kasus tes terapung di air, orang yang tidak bersalah ditenggelamkan sebagaai cara untuk meyakinkan bahwa mereka tidak dirasuki oleh iblis. Tes terapung di air didasarkan pada prinsip bahwa logam murni tetap berada didasar selama peleburan, sedangkan yang tiruan muncul kepermukaan. Tertuduh yang dapat mempertahankan kepala mereka di atas permukaan air dianggap bersekutu dengan iblis. Oleh karenanya mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Percobaan ini merupakan sumber  frase yang berbunyi “terkutuklah jika engkau melakukan dan terkutuklah jika tidak” (damn if you do and damn if you don’t). Akademisi modern pernah meyakini bahwa orang-orang yang disebut sebagai penyihir pada abad pertengahan dan zaman renaisensse sebenarnya merupakan orang-orang yang mengalami gangguan secara mental. Mereka diyakini dianiaya karena perilaku abnormal mereka dianggap sebagai bukti bahwa mereka bersekutu dengan iblis. Adalah benar bahwa banyak dari penyihir yang diduga mengaku telah melakukan perilaku yang tidak mungkin, seperti terbang atau melakukan hubungan seksual dengan iblis. Dilain sisi, pengakuan semacam itu mungkin mengacu pada gangguan dalam pikiran dan persepsi yang konsisten dengan diagnosis modern tentang gangguan psikologis, seperti skizofrenia.
Meskipun setan diyakini memainkan peranan baik dalam perilaku abnormal, maupun ilmu sihir, tapi terdapat perbedaan antara keduanya. Korban dari kerasukan oleh roh jahat kemungkinan dipersepsikan dirundung hal itu sebagai balasan atas pelanggaran yang telah dilakukan, tapi beberapa orang yang menunjukkan perilaku abnormal dianggap merupakan korban yang tidak berdosa dari penguasaan setan tersebut. Namun, penyihir diyakini secara sukarela memasuki persekutuan dengan iblis dan meninggalkan Tuhan. Penyihir biasanya dipandang lebih pantas untuk mengalami penyiksaan, dan eksekusi hukuman mati.
  1. Rumah Sakit Jiwa
Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, rumah sakit jiwa , atau penampungan untuk orang gila, mulai menjamur di seluruh Eropa. Banyak yang sebelumnya merupakan leprosariun (tempat perawatan untuk penderita lepra), yang tidak lagi dibutuhkan karena berkurangnya penyakit lepra pada akhir abad pertengahan. Rumah sakit jiwa acapkali memberikan perlindungan bagi para pengemis sebagaimana orang yang mengalami gangguan, dan kondisi di tempat itu biasanya mengerikan. Para penghuninya acapkali dirantai di tepi tempat tidur mereka dan dibiarkan terbaring di tengah kotoran mereka atau berkeluyuran tanpa ada yang membantunya.
  1. Gerakan Reformasi dan Terapi Mental
Sejak tahun 1784 hingga 1802, Pusin, seorang awam, ditempatkan sebagai penguasa suatu bangsal untuk orang-orang yang dianggap gila tidak tersembuhkan pada La BicĂȘtre, sebuah rumah sakit mental besar di kota Paris. Orang-orang yang tidak beruntung tersebut telah dianggap terlalu berbahaya dan tidak dapat diramalkan perilakunya jika dibiarkan tidak dirantai. Namun, Pusin meyakini apabila mereka dirawat dengan kebaikan hati, maka mereka tidak perlu dirantai. Sebagaimana yang diperkirakannya, kebanyakan dari mereka yang dikurung menjadi lebih mudah ditangani dan tenang saat rantai mereka dilepaskan. Mereka dapat berjalan di halaman rumah saki dan menghirup udara segar. Pinel (1746-1826) melanjutkan penanganan manusiawi yang telah dimulai oleh Pussin. Ia menghentikan prektek-prektek yang kasar, seperti melukai dan mensucikan penderita, dan memindahkan pasien dari kamar bawah tanah yang gelap kekamar yang memiliki ventilasi yang baik dan terkena sinar matahari. Pinel juga menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara dengan para penghuni, dengan keyakinan bahwa dengan memberikan pengertian dan kepedulian akan membantu penyembuhan mereka untuk kembali berfungsi secara normal. Filosofis penanganan yang muncul dari upaya ini disebut terapi moral. Terapi ini didasarkan pada keyakinan bahwa memberikan penanganan yang manusiawi dalam lingkungan yang santai dan layak dapat mengembalikan fungsi individu menjadi normal kembali.
  1. Suatu Langkah Mundur
Pada paruh terakhir abad ke-19, keyakinan bahwa perilaku abnormal dapat berhasil ditangani atau disembuhkan dengan terapi moral menjadi kurang disukai (USDHHS, 1999a). Rumah sakit mental menjadi tempat yang menakutkan. Kondisi rumah sakit yang menyedihkan tetap menjadi hal yang umum hingga pertengahan abad ke-20. Walaupun sejumlah rumah sakit negara yang bagus menyediakan perawatan yang layak dan manusiawi, banyak yang digambarkan tidak lebih sebagai sarang macan bagi manusia. Para penghuni sering dijejalkan di dalam bangsal yang bahkan tidak memiliki sanitasi yang baik. Banyak pasien menerima sedikit perawatan profesional dan diperlakukan tidak manusiawi oleh staf-staf yang kurang terlatih dan kurang mendapatkan pengawasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar