Laman

Sabtu, 07 September 2013

Electra complex



Electra complex [Kompleks Electra] adalah istilah psikoanalisis yang digunakan untuk menggambarkan perasaan romantis seorang gadis terhadap ayahnya dan marah terhadap ibunya. Seperti halnya Electra complex, pada laki-laki juga terjadi Oedipal Complex [kompleks Oedipus].
Menurut Sigmund Freud, perkembangan psikoseksual seorang anak perempuan pada awalnya melekat pada ibunya. Ketika ia menemukan bahwa ia tidak memiliki penis (gejala ini dalam psikologi disebut penis envy), ia menjadi melekat pada ayahnya dan mulai membenci ibunya, yang menganggap ibunya telah melakukan “pengebirian dirinya”. Freud percaya bahwa seorang anak perempuan kemudian mulai mengidentifikasi dan meniru ibunya karena takut kehilangan cinta ayahnya.
Istilah Electra Kompleks memang sering dikaitkan dengan Freud, namun sebenarnya Carl Jung telah menciptakan istilah ini pada tahun 1913. Freud sendiri menolak istilah tersebut, karena menggambarkan penyederhanaan upaya untuk memahami analogi antara sikap dari dua jenis kelamin. Freud sendiri menggunakan istilah Oedipus sebagai sebuah sikap feminin untuk menggambarkan apa yang sekarang kita sebut sebagai Electra complex [Kompleks Electra].
Seorang perempuan cenderung mengalami electra complex jika jatuh hati dengan seorang laki - laki yang berusia terpaut lebih dari 10 tahun atau memiliki sosok mirip ayahnya. 
Kenapa menyukai lawan jenis dengan usia terpaut jauh harus mendapat label secara psikologis? Perempuan dengan electra complexsering kali mencari figur ayahnya dalam diri laki - laki yang dari segi usia terpau sangat jauh. Label psikologi ini berdasarkan pemikiran Sigmund Freud dan legenda Yunani, Electra yang mencintai ayahnya.
Perempuan dengan electra complex biasanya sangat mengagumi sang ayah dan bertekad memiliki pasangan hidup seperti figur sang ayah. Perempuan ini akan sangat bergantung dengan pasangannya dan berharap pasangannya selalu menjadi tempat bersandar. Sikap yang ditunjukkan cenderung manja dan kekanakan. Beberapa artikel bahkan menyebutkan perempuan dengan electra complex bersikap membenci sang ibu karena tidak mau kalah dalam usaha mencari perhatian sang ayah.
Sebagian masyarakat masih mengkonotasikan negatif akibat label psikologi dari hubungan cinta dengan lawan jenis yang terpaut usia jauh. Yang lebih muda disebut berondong. Dalam ilmu psikologi fase dimana seorang perempuan mulai menyukai ayahnya disebut phalic dalam rentang 3 hingga 6 tahun. Kultur masyarakat kita beranggapan bahwa anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya dan anak laki - laki lebih dekat dari ibunya adalah perwujudan dari electra complexdan oedipus complex. Masyarakat lalu menghakimi perempuan dengan kecenderungan electra complexatau laki - laki dengan kecenderungan oedipus complex. Pasangan mereka dianggap “doyan berondong” dan mendapat sanksi sosial dari masyarakat karena hal yang tidak lumrah atau tidak boleh.
Electra complexterjadi akibat rasa sayang seorang ayah yang berlebihan kepada anak perempuannya. sikap ayah yang memanjakan memberi rasa nyaman yang melenaksan sehingga si anak perempuan tidak dapat lepas dari bayang - bayang ayahnya dan menuntut perhatian yang sama dari pasangannya.
Dampak negatifnya mudah ditebak. Masyarakat membentuk opini tentang ketidakwajaran hubungan seorang perempuan yang selau mencari laki - laki dengan usia terpaut jauh di atasnya. Belum lagi pasangan risih dengan ketergantungan perempuan dengan electra complex yang selalu menuntut lebih. Perbedaan usia yang jauh menuntut penyesuaian pola pikir yang lebih sulit dan perbedaan rutinitas atau aktifitas harian akan menimbulkan bentrokan dalam hubungan.
Electra complex dapat diketahui sejak dini dari perilaku perempuan yang lengket dengan ayahnya atau sikap tidak tertarik dengan lawan jenis seusia. Perilaku ini bisa diluruskan dengan mengubah cara pandang perempuan tersebut agar tidak selalu terbayang dengan ayahnya dan mencoba mandiri dari pasangan. Perempuan tersebut juga perlu menjalani terapi perilaku seksual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar